MODEL DAN METODE PERENCANAAN PENDIDIKAN ISLAM


Oleh :  H. Maman, Iwan Ruswanda, dan Lalu Mabrur

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perencanaan (planning) merupakan fungsi awal dari serangkaian aktivitas manajemen dalam mencapai tujuan secara efektif dan efiasien, sebelum fungsi berikutnya yaitu organizing, actuating, dan controlling. Menurut Anderson dalam Syafaruddin, perencanaan adalah pandangan masa depan dan menciptakan kerangka kerja untuk mengarahkan tindakan seseorang di masa depan.

Perencanaan pendidikan pada hakikatnya adalah proses pemilihan yang sistematis, analisis yang rasional mengenai apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa pelaksananya dan kapan suatu kegiatan dilaksanakan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan lebih efektif dan efisien, sehingga proses pendidikan itu dapat memenuhi tuntutan / kebutuhan masyarakat. Dengan demikian seperti dikemukakan oleh Burhanuddin, maka terdapat empat aspek yang berkaitan dengan perencanaan pendidikan tersebut yaitu berhubungan dengan masa depan, adanya seperangkat kegiatan, adanya proses yang sistematis, dan adanya tujuan.

Perencanaan dalam dunia pendidikan, terutama dalam sebuah lembaga pendidikan, memang sangatlah penting, sebab perencanaan tersebut kedepannya akan berperan vital sebagai petunjuk dalam gerak langkah lembaga tersebut. Namun demikian, model perencanaan dalam sebuah lembaga pendidikan tentunya akan sangat berbeda dengan perencanaan dalam sebuah perusahaan. Perusahaan yang notabene berorientasi profit, tentu saja ‘memproses’ benda mati, baik berupa barang maupun jasa. Di lain pihak, lembaga pendidikan, atau dapat disebut sebagai sekolah, ‘memproses’ manusia dengan segala sifat-sifat kemanusiaannya yaitu hidup dan berkembang.

Perencanaan dalam sebuah lembaga pendidikan, tentunya tidak boleh melenceng dari tujuan pendidikan itu sendiri, karena tujuan itulah yang nantinya akan menjadi titik tolak penyusunan sebuah kerangka rencana. Dan agar sebuah perencanaan dalam lembaga pendidikan tersebut tidak melenceng dari tujuan pendidikan itu sendiri, harus digunakan sebuah model dan metode perencanaan yang sesuai dan tepat. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang model dan metode perencanaan pendidikan.

Perumusan Masalah

Adapun rumusan masalah akan dibahas dalam makalah ini antara lain :

  1. Apakah pengertian model dan metode perencanaan pendidikan?
  2. Apa saja macam-macam model dan metode perencanaan pendidikan?
  3. Bagaimana model dan metode perecanaan pendidikan berbasis wahyu?

PEMBAHASAN

Pengertian Model dan Metode Perencanaan Pendidikan

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, Hoetomo menterjemahkan model sebagai contoh, pola acuan ragam, macam, atau barang tiruan yang kecil dan tepat seperti yang ditiru. Sedangkan metode diartikan sebagai cara yang telah diatur dan terfikir baik-baik untuk mencapai sesuatu maksud dalam ilmu pengetahuan, cara belajar dan sebagainya.

Perencanaan (planning) menurut Newman dalam Manullang, “Planning is deciding in advance what is to be done”. Jadi perencanaan adalah penentuan terlebih dahulu apa yang akan dikerjakan. Sedangkan Louis Allen mengatakan “Planning is the determination of a course of action to achieve a desired result”, perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Dengan demikian, model perencanaan dapat diartikan sebagai pola atau contoh atau acuan yang digunakan dalam penyusunan sebuah perencanaan. Sedangkan metode perencanaan diartikan sebagai cara atau langkah atau strategi yang ditempuh dalam penyusunan sebuah perencanaan.

Model dan metode perencanaan dalam lingkup pendidikan, diartikan sebagai pola atau acuan, dan cara yang ditempuh dalam penyusunan rencana pendidikan secara umum. Tetapi model dan metode perencanaan pendidikan tentunya berbeda dengan model dan metode perencanaan pengajaran, perencanaan pendidikan cakupannya lebih luas dan lebih umum menyangkut rencana dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pengambil kebijakan tertinggi dalam instansi pendidikan. Sedangkan model dan metode perencanaan pengajaran sebagaimana dilakukan Oleh Lukman Hakim bahwa model perencanaan pengajaran memuat komponen sistem pembelajaran dan unsur kegiatan yang dilakukan, baik oleh guru maupun siswa dalam proses pembelajaran. Dan metode perencanaan pengajaran merpakan suatu cara menyusun materi-materi pembelajaran atau pengalaman belajar yang ingin dicapai. Perencanaan berkaitan dengan bagaimana cara, startegi, atau kegiatn yang dilakukan agar siswa memperoleh pengalaman belajar untuk mencapai tujuan.

Macam-macam Model Perencanaan Pendidikan

Perencanaan merupakan petunjuk mengenai apa yang akan dilakukan, akan tetapi jika perencanaan tersebut disusun dengan begitu padat, ketat, kaku, dan tidak manusiawi, maka dapat menimbulkan kebingungan dan ketidakpastian, karenanya perencanaan untuk menjadi alat yang berguna menurut Harjanto perlu juga dipakai dalam suatu kombinasi yang harmonis dengan alat lainnya seperti pengawasan dan evaluasi. Lebih lanjut ia mengatakan, suatu rencana yang baik senantiasa menjadi alat petunjuk arah dan sekaligus merupakan kiat yang lentur dan fleksibel.

Ada beberapa model perencanaan pendidikan yang dikemukakan para ahli pendidikan, diantaranya Dr. Nanang Fattahdan Dr. Husaini Usman mengemukakan empat model perencanaan pendidikan, yaitu :

Model Perencanaan Komperehensif

Model ini terutama digunakan untuk menganalisis perubahan-perubahan dalam system pendidikan secara keseluruhan. Di samping itu berfungsi sebagai suatu patokan dalam menjabarkan rencana-rencana yang lebih spesifik ke arah tujuan-tujuan yang lebih luas.

Model Target Setting

Model ini diperlukan dalam upaya melaksanakan proyeksi ataupun memperkirakan tingkat perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Dalam persiapannya dikenal:

a. Model untuk menganalisis demografis dan proyeksi penduduk

b. Model untuk memproyeksikan enrolmen (jumlah siswa terdaftar) sekolah

c. Model untuk memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja.

3. Model Costing dan keefektifan biaya

Model ini sering digunakan untuk menganalisis proyek-proyek dalam criteria efisien dan efektifitas ekonomis. Dengan model ini dapat diketahui proyek yang paling fleksibel dan memberikan suatu perbandingan yang paling baik di antara proyek-proyek yang menjadi alternative penanggulangan masalah yang dihadapi.
Penggunaan model ini dalam pendidikan didasarkan pada pertimbangan bahwa pendidikan itu tidak terlepas pada pertimbangan bahwa pendidikan itu tidak terlepas dari masalah pembiayaan. Dan, dengan sejumlah biaya yang dikeluarkan selama proses pendidikan, diharapkan dalam kurun waktu tertentu dapat memberikan benefit tertentu.

4. Model PPBS

PPBS (planning, programming, budgeting system) bermakna bahwa perencanaan, penyusunan program dan penganggaran dipandang sebagai suatu system yang tak terpisahkan satu sama lainnya. PPBS merupakan suatu proses yang komprehensif untuk pengambilan keputusan yang lebih efektif. Beberapa ahli memberikan pengertian, antara lain: Kast Rosenzweig (1979) mengemukakan bahwa PPBS merupakan suatu pendekatan yang sistematik yang berusaha untuk menetapkan tujuan, mengembangkan program-program, untuk dicapai, menemukan besarnya biaya dan alternative dan menggunakan proses penganggaran yang merefleksikan kegiatan program jangka panjang. Sedangkan Harry J. Hartley (1968) mengemukakan bahwa PPBS merupakan proses perencanaan yang komprehensif yang meliputi program budget sebagai komponen utamanya.

Berdasarkan kedua pengertian tersebut di atas dapat di simpulkan bahwa:
a. PPBS merupakan pendekatan yang sistematik. Oleh karena itu, untuk menerapkan PPBS diperlukan pemahaman tentang konsep dan teori system.

b. PPBS merupakan suatu proses perencanaan komprehensif. Penerapannya hanya dimungkinkan untuk masalah-masalah yang kompleks dan dalam organisasi yang dihadapkan pada masalah yang rumit dan komprehensif.

Untuk memahami PPBS secara baik, maka perlu kita perhatikan sifat-sifat esensial dari system ini. Esensi dari PPBS adalah sebagai berikut:

  1. Memperinci secara cermat dan menganalisis secara sistematik terhadap tujuan yang hendak dicapai.
  2. Mencari alternative-alternatif yang relevan, cara yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan.
  3. Menggambarkan biaya total dari setiap alternative, baik langsung ataupun tidak langsung, biaya yang telah lewat ataupun biaya yang akan dating, baik biaya yang berupa uang maupun biaya yang tidak berupa uanag.

4.  Memberikan gambaran tentang efektifitas setiap alternative dan bagaimana

alternative itu mencapai tujuan.

  1. Membandingkan dan menganalisis alternative tersebut, yaitu mencari kombinasi yang memberikan efektivitas yang paling besar dari sumber yang ada dalam pencapaian tujuan.

Macam-macam Metode Perencanaan Pendidikan

Ada banyak metode yang digunakan dalam perencanaan, akan tetapi yang biasa dipakai dalam perencanaan pendididkan adalah yang ditemukan oleh Augus W Smith dalam Nanang Fattah menyebutkan ada 8 metode perencanaan pendidikan:

a. Metode mean-ways-end analysis (analisis mengenai alat-cara-tujuan)

Metode ini digunakan untuk meneliti sumber-sumber dan alternatif untuk mencapai tujuan tertentu. Tiga hal yang perlu dianalysis dalam metode ini, yaitu: means yang berkaitan dengan sumber-sumber yang diperlukan, ways yang berhubungan dengan cara dan alternative tindakan yang dirumuskan dan bakal dipilih dan ends yang berhubungan dengan tujuan yang hendak dicapai. Ketiga aspek tersebut ditelaah dan dikaji secara timbal balik.

b. Metode input-output analysis (analisis masukan dan keluaran)

Metode ini dilakukan dengna mengadakan pengkajian terhadap interelasi dan interdependensi berbagai komponen masukan dan keluaran dari suatu system. Metode ini dapat digunakan untuk menilai alternative dalam proses transformasi.

c. Metode econometric analysis (analisa ekonometrik)

Metode ini menggunakan data empirik, teori ekonomi dan statistika dalam mengukur perubahan dalam kaitan dengan ekonomi. Metode ekonometrik mengembangkan persamaan-persamaan yang menggambarkan hubungan ketergantungan di antara variable-variabel yang ada dalam suatu system.

d. Metode Cause-effect diagram (diagram sebab akibat)

Metode ini digunakan dalam perencanaan dengan menggunakan sikuen hipotetik untuk memperoleh gambaran tentang masa depan. Metode ini sangat cocok untuk perencanaan yang bersifat strategic.

e. Metode Delphi

Menurut Nanang Fattah  metode Delphi bertujuan untuk menentukan sejumlah alternative program. Mengeksplorasi asumsi-asumsi atau fakta yang melandasi “Judgments” tertentu dengan mencari informasi yang dibutuhkan untuk mencapai suatu consensus. Biasa metode ini dimulai dengan melontarkan suatu masalah yang bersifat umum untuk diidentifikasi menjadi masalah yang lebih spesifik. Partisipan dalam metode ini biasanya orang yang dianggap ahli dalam disiplin ilmu tertentu.

Sedangkan menurut Sudjana, metode Delphi digunakan untuk menghimpun keputusan-keputusan tertulis yang diajukan oleh calon peserta didik atau para pakar yang tempat tinggalnya tersebar dan mereka tidak dapat berkumpul atau bertemu muka dalam menentukan keputusan iti. Metode ini pada dasarnya merupakan proses kegiatan kelompok dengan menggunakan jawaban-jawaban tertulis dari para calon peserta didik atau para pakar terhadap rancangan keputusan yang diajukan secara tertulis kepada mereka. Kegiatan ini bertujuan untuk melibatkan calon peserta didik atau pakar dalam membuat keputusan, sehingga keputusan itu lebih berbobot dan menjadi milik bersama.

f. Metode heuristic (prosedur penelitian ilmiah)

Metode ini dirancang untuk mengeksplorasi isu-isu dan untuk mengakomodasi pandangan-pandangan yang bertentangan atau ketidakpastian. Metode ini didasarkan atas seperangkat prinsip dan prosedur yang mensistematiskan langkah-langkah dalam usaha pemecahan masalah.

g. Metode life-cycle analysis (analisa siklus kehidupan)

Metode ini digunakan terutama untuk mengalokasikan sumber-sumber dengan memperhatikan siklus kehidupan menghenai produksi, proyek, program atau aktivitas. Dalam kaitan ini seringkali digunakan bahan-bahan komperatif dengan menganalogkan data, langkah-langkah yang ditempuh dalam metode ini adalah:

1. Fase Konseptualisasi;

2. Fase Spesifikasi;
3. Fase Pengembangan Prototype;
4. Fase Pengujian dan Evaluasi;
5. Fase Operasi;
6. Fase Produksi.

Metode ini bisa dipergunakan dalam bidang pendidikan terutama dalam mengalokasikan sumber-sumber pendidikan dengan melihat kecenderungan-kecenderungan dari berbagai aspek yang dapat dipertimbangkan untuk merumuskan rencana dan program.

h. Metode value added análisis (analisa nilai tambah)

Metode ini digunakan untuk mengukur keberhasilan peningkatan produksi atau pelayanan. Dengan demikian, kita dapat mendapatkan gambaran singkat tentang kontribusi dari aspek tertentu terhadap aspek lainnya.

Sementara itu, Husaini Usman menambahkan metode lain dari delapan metode yang telah disebutkan di atas, yaitu:

1. Metode proyeksi.

Perencanaan pendidikan dengan menggunakan metode proyeksi inilah yang menghasilkan metode pemecahan penduduk lima tahunan, data persekolahan, proyeksi penduduk dan penduduk usia sekolah, proyeksi siswa, proyeksi ruang kelas, dan proyeksi kebutuhan guru. Dalam hal ini metode proyeksi dibagi menjadi :

  1. Angka pertumbuhan siswa

Angka pertumbuhan siswa (APn) iialah kenaikan siswa setiap tahunnya. Rumusnya adalah sebagai berikut:

APn = Sn-1 – Sn-2

Sn-2

APn = Angka pertumbuhan siswa tahun n

Sn-1 = Siswa tahun n-1

Sn-2 = Siswa tahun n-2

Kohort siswa

Kohort ialah suatu angkatan siswa yang masuk kelas 1 sampai tamat sekolah. Dengan kohort ini kita bisa melihat perkembangan jumlah siswa dari semenjak masuk kelas 1 hingga lulus ujian kelas terakhir.

Arus siswa

Metode proyeksi dengan arus siswa menggambarkan hasil proyeksi tiga arus siswa yaitu angka mengulang, angka naik kelas, dan angka putus sekolah dari setap angkatan/tingkat.

2. Metode pemecahan penduduk usia lima tahunan menjadi tahunan.

Metode ini diperlukan karena dalam dunia pendidikan proyeksi jenjang usia berbeda dengan yang disusun oleh BPS (Badan Pusat Statistik), data pada BPS menggunakan interval 0 – 4 tahun, 5 – 9 tahun, 10 – 14 tahu, 15 – 19 tahun, 20 – 24 tahun, dan seterusnya. Sedangkan usia untuk perencanaan pendidikan  menggunakan interval 7 – 12 tahun (SD), 13 – 15 tahun (SMP), 16 – 18 tahun (SMA), dan 19 – 24 tahun (PT).

3. Proyeksi penduduk dan penduduk usia sekolah

Proyeksi ini dilakukan BPS dengan menggunakan dua pola, yaitu :

  1. Metode componen berdasarkan asumís kecenderungan fertilitas, mortalitas, dan perpindahan penduduk antarpropinsi
  2. Angka pertumbuhan, angka pertumbuhan dapat dihitung minimal untuk dua tahun berurutan. Untuk menghitung angka pertumbuhan, maka diperlukan data penduduk minimal da tahun, semakin banyak data penduduk semakin telita proyeksi yang dihasilkan.

Hal yang sama juga dilakukan untuk menghitung proyeksi penduduk usia sekolah, sebagai control, setelah proyeksi penduduk usia sekolah selesai dihitung selanjutnya perlu dibandingkan dengan jumlah penduduk seluruhnya, sehingga muncullah presentase usia penduduk terhadap penduduk seluruhnya, maka proyeksi yang dihaslkan akan semakin rasional.

4. Proyeksi kebutuhan ruang kelas

Dalam perencanaan pendidikan, kebuuhan tambahan Ruang Kelas Baru (RKB) dan Unit Sekolah Baru (USB) Sangay diperlukan, terutama dalam rangka perluasan desempatan relajar. Metode perhitungan dapat dilakukan dengan pendekatan makro dan mikro. Keuntungan pendekatan makro hádala lebih mudah dilaksanakan karena hanya menbutuhkan waktu singkat dan data lebih mudah didapat, sedangkan kelemahannya hádala hasil perhitungan yang didapat bersifat umum dan kasar karena daerahnya cukup luas.

Sedangkan keuntungan menggunakan pendekatan mikro ádalah hasil yang diperoleh lebih mendekati kebutuhan nyata, karena memperhatikan berbagai variable seperti pencapaian, pemukiman, demografis, ekonomi, dan variable nonkependidikan lanilla yang relevan. Kelemahannya hádala memerlukan waktu lama, koordinasi yang rumit, memerlukan ketrampilan khusus dan membutuhkan biaya besar. Akan tetapi manfaat dari proyeksi ini hádala alokasi kebutuhan ruang kelas yang tepat dengan keperluan daerah dan cocok dengan kebutuhan nyata sekolah.

Data yang diperlukan untuk menghitung gedung dan ruang kelas baru antara lain:

  1. Jumlah kelas dan ruang kelas milik;
  2. Proyeksi jumlah siswa sesuai dengan tahun yang akan dihitung;
  3. Jumlah sekolah yang sedang dibangun dalam bentuk ruang kelas;
  4. Jumlah sekolah minimal tiga tahun berurutan
  5. Jumlah siswa tiga tahun berurutan;

Dengan menggunakan angka tersebut, dapat dihitung angka parameter yang diperlukan untuk menghitung kebutuhan rung kelas. Angka parameter terdiri dari rasio siswa per kelas, rasio kelas per ruang kelas milik, rasio siswa per sekolah, pertambahan jumlah sekolah, dan penambahan jumlah siswa. Adapun cara menghitung kebutuhan gedung dan tambahan ruang kelas dilakukan dua tahap, yaitu:

  1. Menghitung jumlah ruang kelas seluruhnya yang diperlukan, baik yang akan dialokasikan dalam bentuk gedung dengan 6 ruang kelas, 9 ruang kelas, atau 12 ruang kelas, maupun yang akan dibangn sebagai tambahan ruang kelas;
  2. Hasil perhitungan tahap pertama kemudian dirinci menjadi tambahan kebutuhan gedung dan ruang kelas;

Perhitungan tahap pertama yaitu kebutuhan jumlah ruang seluruhnya dapat digunankan dengan rumus:

BRKt = PSt / (S/K)t x (K/RK)t – (RKLt-1 + RKSt-1)

Keterangan:

BRKt               = jumlah kebutuhan ruang kelas seluruhnya pada tahun t

PSt                   = proyeksi jumlah siswa pada tahun t

(S/K)t              = rasio siswa per kelas tahun t

(K/RK)t           = rasio kelas per ruang kelas tahun t

RKLt-1            = jumlah ruang kelas lama yang sudah ada

RKSt-1            = jumlah ruang kls yang sedang dibangun / belum digunakan

5. Proyeksi Kebutuhan Guru

Metode ini akan menghitung kebutuhan guru pada tap jenjang pendidikan, kebutuhan guru SD ada lima jenis, yaitu kepala sekolah, guru kelas, guru penjas, guru agama, dan guru bimbingan penyuluhan. Untuk jenjang SMP ada empat jemis kebuthan guru yaitu kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru bidang studi, dan guru BP. Kebutuhan guru SMA/SMK juga ada empat jenis, yaitu kepala sekolah, empat wakil kepala sekolah, guru bidang studi/praktik, dan guru BP.

Untuk menghitung jumlah kebutuhan kepala sekolah sama dengan jumlah sekolahnya, sedangkan untuk menghitung jumlah wakil kepala sekolah SD juga sama dengan jumlah sekolahnya. Akan tetapi, untuk menghitung jumlah wakil kepala sekolah SMA/ SMK ada dua cara perhitungan, yaitu :

  1. Sama dengan jumlah sekolahnya dikalikan 4
  2. Jika jumlah kelas 27, siswa 1.080, diperlukan 4 wakil kepala sekolah;
  3. Jika jumlah kelas 18, siswa 720, diperlukan 3 wakil kepala sekolah;
  4. Jika jumlah kelas 9, siswa 360, diperlukan 2 wakil kepala sekolah;

Kebutuhan guru kelas untuk SD sama dengan jumlah kelas, tetapi jika guru kelas I merangkap guru kelas II, maka dapat dihitung dengan rumus :

KGK = JKt – JKIIt – JG

Keterangan :

KGK   = kebutuha guru kelas

JKt       = jumlah kelas pada tahun t

JKIIt    = jumlah kelas II pada tahun t

JG        = jumlah guru seluruhnya

Kebutuhan guru penjas dan guru agama pada jenjang SD sama dengan jumlah sekolah, sedangkan untuk guru BP digunakan rumus :

KGBPt = JSt / 150

Kebutuhan guru bidang studi untuk SMP dapat dihitung dengan rumus:

KGBSat = (JKt x JBa) / 24

Keterangan :

KGBSat = kebutuhan guru bidang studi a pada tahun t

JKt       = jumlah kelas tahun t

Jba       = jumlah jam belajar bidang studi a sesuai kurikulum

24        = jam mengajar bidang studi sesuai kurikulum

Untuk guru bidang studi tertentu, misal B. Indonesia adalah jumlah kelas dikali jam belajar B. Indonesia yaitu 6, dibagi beban mengajar guru yaitu 24.

Alternatif lain untuk menghitung guru bidang studi SMP dapat menggunakan rumus:

KBnSMP = Kn x 42

24

Keterangan:

KBn     = kebutuhan guru SMP/MTs seluruhnya tahun n

Kn       = proyeksi jumlah kelas tahun n

42        = jumlah jam seluruh mata pelajaran sesuai kurikulum 1994

24        = jumlah jam belajar guru per minggu

Kebutuhan guru bidang studi untuk jenjang SMA dapat dihitung dengan rumus :

KGBSat = (JKIt x JBIa) + (JKIIt x JBIIa) + (JKIIIt x JBIIIa)

24

Keterangan:

KGBSat = kebutuhan guru bidang studi a pada tahun t

JKIt     = jumlah kelas tingkat I pada tahun t

JKIIt    = jumlah kelas tingkat II tahun t

JKIIIt   = jumlah kelas tingkat III tahun t

JBIa     = jumlah jam belajar tingkat I bidang studi a

24        = jam mengajar guru per minggu

Alternatif lain untuk menghitung kebutuhan guru mata pelajara SMA dapat menggunakan rumus:

KBnSMA = Kn x 44

24

Metode perencanaan proyeksi juga dapat digunakan untuk menghitung hal-hal yang berkaitan dengan masalah pendidikan yang lain, misalnya;

1. Prediksi Rasio siswa per guru dapat dihitung dengan rumus:

RS/G =  Jumlah siswa pada jenjang pendidikan tertentu

Jumlah guru pada jenjang pendidikan tertentu

Semakin tinggi rasio berarti semakin banyak siswa yang dilayani guru atau jumlah guru semakin kurang

2. Rasio siswa per kelas dapat dihitung denga rumus:

RS/K   = Jumlah siswa pada jenjang penddikan tertentu

Jumlah kelas pada jenjang pendidikan tertentu

Semakin tinggi rasio berarti semakin padat siswa di kelas atau semakin kekurangan jumlah kelas

3. Rasio kelas per guru dapat dihitung dengan rumus :

RK/G   = Jumlah kelas pada jenjang pendidikan tertentu

Jumlah guru pada jenjang pendidikan tertentu

Semakin tinggi rasio berarti semakin kurang guru dibandingkan jumlah kelas.

4. Angka Partisipasi Kasar (APK) dapat dihitung dengan rumus :

APK = Jumlah siswa pada jenjang pendidikan tertentu x 100%

Jumlah penduduk kelompok usia tertentu

Semakin tinggi APK berarti semakin banyak anak usia sekolah yang sekolah di jenjang pendidikan tertentu.

5. Angka Partisipasi Murni (APM) dapat dihitung dengan rumus :

APM = Jumlah siswa kelompok usia sekkolah jenjang tertentu x 100%

Jumlah penduduk usia tertentu

Semakin tinggi APM berarti semakin banyak usia sekolah yang sekolah di suatu daerah tertentu.

6. Angka transisi dari semua jenjang baik jalur sekolah maupun luar sekolah dapat dihitung dengan rumus :

PAT = Jumlah sekolah jenjang pendidikan tertentu

Jumlah sekolah jenjang yang lebih tinggi

Semakin tinggi nilai angka transisi semakin besar kesenjangan antara sekolah tertentu dengan jenjang sekolah yang lebih tinggi.

7. Jumlah lulusan SMA/SMK yang diterima di PTN/PTS dan jumlah mahasiswa baru yang diterima di PTN/PTS dapat dihitung dengan rumus:

Angka melanjutkan = Jumlah mahasiswa baru di jenjang PT tertentu tahun t  x 100 %

Jumlah lulusan SMA/SMK tahun t

Semakin tinggi nilai angkanya maka semakin baik, idealnya 100%.

8. Jumlah lulusan SMA/SMK yang diterima di dunia kerja dapat dihitung dengan rumus:

Jumlah lulusan SMA/SMK yang diterima kerja x 100 %

Jumlah lulusan seluruhnya

Semakin tinggi nilai hasilnya maka semaikin baik, ideal angkanya 100%.

Model dan Metode Perencanaan Pendidikan berbasis Wahyu

Sebagaimana fahami bahwa perencanaan dalam sebuah lebaga pendidikan adalah sebuah keniscayaan. Akan tetapi satu hal yang perlu dipahami dalam perumusan perencanaan tersebut tidak melepaskan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Yang mana tujuan dari perencanaan adalah segala upaya yang dilakukan untuk tercapainya tujuan secara sestimatis, efektif dan efesien. Sedangkan tujuan pendidikan Islam adalah untuk membentuk manusia yang bertaqwa disisi Allah.

Modal yang terbesar diberikan Allah kepada manusia adalah wahyu. Wahyu inilah kemudian seharusnya yang menjadi pembimbing dan pedoman dasar dalam segala urusan manusia tidak terkecuali dalam model dan metode perencanaan pendidikan.  Kebenaran firman Allah ini didukung oleh argumentasi tekstual (nash). Huruf-hurufnya, kata-katanya, uslub (susunan kalimat), adalah pilihan Allah sendiri tidak ada iterpensi sedikitpun dari makluknya.

الله الذي أنزل الكتاب بالحق والميزان (الشورى: 17)

“Allah menurunkan kitab al-Qur’an dengan penuh kebenaran dan keseimbangan”

Model dan metode perencanaan pendidikan berbasis wahyu dimaksud disini adalah kembali kepada pemahaman akan model dan metode bagaimana Allah menurunkan wahyu kepada Rasulnya Muhammad saw. Sejak ia mulai diproses menjadi nabi pilihan di akhir zaman. Tentu rentetan-rentetan peristiwa yang terjadi pada rasulullah dalam peruses kenabiannya khususnya dalam penerimaan wahyu adalah bukan sutau hal yang “kebetulan”, dalam artian ini adalah melalui perencanaan Allah yang maha teliti dan maha tahu tentang makhluknya dan apa yang ia akan sampaikan kepada Rasulnya untuk menjadi pelajaran bagi ummat-ummat setelahnya.

وبالحق أنزلناه وبالحق نزل وما أرسلناك إلا مبشرا ونزيرا. وقرانا فرقناه لتقرأه على الناس على مكث ونزلناه تنزيلا (الإسراء: 105-106)

Dan kami turunkan (Al-Qur’an itu) dengan sebenar-benarnya dan al-Qur’an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran” . Dan Al-Qur’an itu lelah kami turunkan secara ber-angsur-angsur agar kamu membacanya perlahan-lahan kepada manusian kami menurunkannya bagian demi bagian.

Melaksanakan perencanaan pendidikan Islam idealnya mengacu kepada bagaiman Allah menurunkan Al-Qur’an ini sesui dengan tahapannya(tartibunnuzul) kepada Muhammad. Karena dalam tartibunnuzulnya ini sebagai suatu metode dalam merencanakan pendidikan Islam. Dan ia harus diyakini mengandung nilai-nilai  dan prinsip-prinsip yang jiaka diserap, dianalisa dan diterapkan dengan benar dapat mengantarkan kepada terbentuknya lembaga pendidikan Islam yang  menghantarkan semua elemenya kepada ketaqwaan.

Tahapan turunya wahyu yang dimaksud disini menurut pakar tafsir dari kalangan sahabat, ibnu abbas, yaitu: QS. Al-Alaq 1-5, QS. al-Qalam 1-7, QS. al-Muzammil 1-10, QS. al-Mudasstir 1-7, dan ditutup dengan QS. al-Fatihah 1-7. Sehingga apabila ini terjadi akan dapat diharapkan outpun pendidikan sesui tujuannya yaitu menjadi orang yang bertaqwa.

Maka Model dan Metode perencanaan Peendidikan Islam yang berbasis wahyu tersebut adalah :

Surat Al-Alaq memiliki pandangan dasar pendidikan

karena surat ini persoalan-soalan substansial tentang siapa itu jati didiri manusia dijawab dengan subtansial. Sebagaimana kita ketahui, setiap aliran pendidikan memiliki pandangan dasarnya, dan dengan demikian pendidikan Islampun harus berbasis pada tentang manusia apa yang dikemukakan pada surat al-Alaq.

Membangun sebuah paradigma pendidikan sangat erat hubungannya dengan “cara pandang”, seorang terhadap sebuah pendidikan.

“ Bacalah dengan (menyebut ) nama Tuhanmu yang menciptakan”;

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”;

“Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Mulia”;

“Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam”;

“Dia  mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

(QS. Al Alaq: 1-5)

Surat Al-Qalam Membentuk nilai-nilai kebenaran

Begitu juga halnya dalam paradigma dan model-model pendidikan perlu diktetengahkan nilai-nilai pendidikan misalnya tentang kecerdasan, kejujuram integritas, moral atau komitmen, dll. Dan itu sebetulnya dapat dirujuk pada Al-Qalam 1-7. Nilai-nilai ini diperlukan sebagai standar atau acuan dalam mengukur realitas lebaga pendidikan atau subyek didik menuju lembaga dan peribadi-peribadi yang dikehendaki

“Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis”;

“Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila”;

“Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar

yang tidak putus-putusnya”;

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”;

“Maka kelak kamu akan  melihat

dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat”;

“Siapa diantara kamu yang gila”;

“Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang paling Mengetahui

siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

(QS. Al Qalam: 1-7)

Surat Al-Muzammil membentuk karakter ,

Dengan adanya padangan dasar dan nilai2 yag dikembangkan itulah suatu pola transpormasi atau metode pendidikan dapat dirumuskan untuk melakukan perubahan anak didik. Misalnya metode pengajarannya, pilihan materi ajarnya, pilihan kurikulum yang diterapakan, itu semua secara mendasar ditunjujukkan dalam ayat- surat muzammil. Kekuatan suatu pendidikan terletak pada seberapa jauh tingkat berubahan yang diberikan oleh pendidikan itu dlam mentransoprmasi kan subyek didiknya.

“Hai orang yang berselimut (Muhammad)”;

“bangunlah (untuk shalat) di malam hari,  kecuali sedikit (daripadanya)”;

“(yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit”;

“atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan”;

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat”;

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan”;

“ Sesungguhnya kamu pada siang hari

mempunyai urusan yang panjang (banyak)”;

“Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya

dengan penuh ketekunan”;

“(Dia-lah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung”;

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.”

(QS. Al Muzammil: 1-10)

Surat Al-Mudassir  pilar transpormasi

Selanjutnya untuk menjaga kontinyuitas proses pendidikan itu hal yang penting untuk dilakukan adalah membentuk institusi atau perangkat organisasi lainya yang  itu semua sebenarnaya telah dicakup oleh ayat-ayat  dalam surat mudassir.  sebagimana kita ketahui bahwa suatu proses pendidikan membutuhkan lingkungan dan perangkat pendukung lainnya termasuk dalam proses aggaran dll. Perangkat-perangkat ini disusun dengan suatu pola pendekatan dimana dalam hal-hal yang besifat materil harus tunduk kepada hal-hal yang lebih kepada sifat-sifat spirituil.

“Hai orang yang berselimut”;

“bangunlah, lalu berilah peringatan!”;

“dan Tuhanmu agungkanlah”;

“dan pakaianmu bersihkanlah”;

“dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah”;

“dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”;

“Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.”


Surat Al-Fatihah Visi Pendidikan Islam

Terakhir, tetapi Mencakup dari sejak awalnya sebuah model perencanaan pendidikan Islam haruslah memiliki visi yang jelas hendak dijadiakan apa subyek didik ini kedepan dan itu semua dijawab dengan tuntas dalam surat al-fatihah.

Sebuah visi pada kenyataannya memberikan arahan gerak dan konsistensi utnuk mencapai tujuan yang menjadi harapan pendidikan.

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih  lagi Maha Penyayang”;

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam”;

“Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”;

“Yang menguasai hari pembalasan”;

“hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan

hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”;

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”;

“(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat

kepada mereka;

bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”.

(QS. Al Fatihah: 1-7)

Dari kelima hal ini (tartibunnuzul) seharusnya kemudian menjadi paradigma dasar  dalam merencanakan model dan metode pendidikan Islam.  Jawaban yang dapat ditampilkan adalah bahwa konsep pendekatan atau paradigma tartibunnuzul ayat ini ini adalah “ijtihadi”.

Pertama, berkenaan dengan urut-urutan nuzulnya Al Qur’an sebagaimana yang tertera dalam paradigma sistematika Nuzulnya wahyu, kenyataannya merujuk pada keterangan Ibnu Abbas dan beberapa ahli tafsir lainnya.

Kedua, secara substansial dapat dianalisis bahwa kandungan ayat-ayat, sebagaimana yang dimaksudkan dalam wahyu tersebut, adalah kerangka dasar perencanaan pendidikan yang berarti secara penuh bersifat Islami.

Ketiga, mengikuti umumnya ahli tafsir bahwa surat Al Fatihah dipandang sebagai induk  kitab (ummul kitab) yang merupakan garis-garis besar atau bahkan kesimpulan Al Qur’an sendiri, dan oleh karena itu tartib Nuzul wahyu ini  berprinsip pada batas nuzulnya surat Al Fatihah.

Keempat, adalah nyata bahwa perjuangan Rasulullah menyampaikan risalah-Nya sehingga berhasil membangun peradaban Islam, menerapkan  secara sempurna tahapan-tahapan turunnya wahyu ini. Sehingga wajar atau bahkan seharusnya, jika kita ingin membangun atau merencanakan pendidikan  Islam mengikuti apa yang telah dipraktekkan oleh Beliau yang ternyata juga terbukti kebenarannya.

Karena itu ketika umat Islam  ingin kembali meraih kejayaannya, menjadi kiblat peradaban manusia, maka prasyarat mutlak yang harus dilakukan adalah membangun dasar-dasar orientasi, mengelaborasi dan menderivasikannya sehingga menjadi tatanan nilai,  visi ideologis dan sistem penjelas serta konsep-konsep yang diperlukan. Ini berarti mengikuti pola yang diterapkan oleh Rasulullah dan substansi dari wahyu-wahyu yang pertama kali diturunkan atau dengan apa yang disebut sebagai Tartibunnuzul al-wahyu. Upaya ini ditransmisikan secara luas dan mendalam ke dalam umat manusia, secara terus menerus dan akseleratif, sehingga tercapailah cita-cita sebagai masyarakat yang diridlai Allah SWT.

KESIMPULAN

Dari uraian dan pembahasan tentang model dan merode perencanaan pendidikan di atas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Model dan metode perencanaan dalam lingkup pendidikan, diartikan sebagai pola atau acuan, dan cara yang ditempuh dalam penyusunan rencana pendidikan secara umum. Tetapi model dan metode perencanaan pendidikan tentunya berbeda dengan model dan metode perencanaan pengajaran, perencanaan pendidikan cakupannya lebih luas dan lebih umum menyangkut rencana dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pengambil kebijakan tertinggi dalam instansi pendidikan.
  2. Macam-macam model perencanaan pendidikan menurut Nanang Fattah yang perlu diketahui diantaranya:
    1. Model perencanaan komprehensif;
    2. Model target setting;
    3. Model costing dan keefektifan biaya
    4. Mode PPBS (planning, programming, budgeting sistem)

    Macam-macam metode perencanaan pendididikan menurut Husaini Usman adalah :

      1. Metode input-output analisis (analisis masukan-keluaran)
      2. Metode analysis econometrik (analisa ekonometrik)
      3. Metode cause-effect diagram (diagram sebab-akibat)
      4. Metode Delphi
      5. Metode heuristic
      6. Metode life sycle analysis (analisa siklus kehidupan)
      7. Metode value added analysis (analisa nilai tambah)
      8. Metode proyeksi
      9. Metode proyeksi dipecah menjadi beberapa metode diantaranya :
        1. Proyeksi pemecahan penduduk usia lima tahunan menjadi tahunan
        2. Proyeksi penduduk dan penduduk usia sekolah
        3. Proyeksi kebutuhan ruang kelas
        4. Proyeksi Kebutuhan Guru

    Metode means-ways-goals analysis (analisis sumber-cara-tujuan)

Agama Islam dengan ajarannya adalah sebuah konsep yang komprehensif yang mengatur semua lini kehidupan manusia. perencanaan dalam Islam adalah sebuah keniscayaan dan harus dipersiapakan segala sesuatu untuk tercapainya tujuan. Al-Qur’an dalam surat Al-Hasyar ayat 18 Allah menjelaskan tentang keharusan dalam perencanaan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18)

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”(Qs.Al-Hasyr:18).

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa  perlunya perencanaan untuk masa depan, apakah untuk diri sendiri, pemimpin keluarga, lembaga, masyarakat maupun sebagai pemimpin Negara.

Ayat-ayat yang berkaitan dengan model dan metode perencanaan pendidikan

Perencanaan dalam Al-Qur’an

  1. Al-Baqarah 208

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (208)

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(Al-Baqarah 208)

  1. Al-Fur’qan 67

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

67. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

  1. Al-baqarah 185,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

  1. Ali Imran 191,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)

191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

  1. Al-An’am 62,

ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ أَلَا لَهُ الْحُكْمُ وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ (62

Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyaanNya. Dan Dialah Pembuat Perhitungan yang paling cepat.

 

  1. Annisa 9,

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (9

9. Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

  1. Al-Isra’ 26-27

وَآَتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ

الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27)

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

KESIMPULAN

Dari uraian dan pembahasan tentang model dan merode perencanaan pendidikan di atas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

Pertama : Model dan metode perencanaan dalam lingkup pendidikan, diartikan sebagai pola atau acuan, dan cara yang ditempuh dalam penyusunan rencana pendidikan secara umum. Tetapi model dan metode perencanaan pendidikan tentunya berbeda dengan model dan metode perencanaan pengajaran, perencanaan pendidikan cakupannya lebih luas dan lebih umum menyangkut rencana dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pengambil kebijakan tertinggi dalam instansi pendidikan.

Kedua : Macam-macam model perencanaan pendidikan menurut Nanang Fattah yang perlu diketahui diantaranya:

  1. Model perencanaan komprehensif;
  2. Model target setting;
  3. Model costing dan keefektifan biaya
  4. Mode PPBS (planning, programming, budgeting sistem)

Ketiga : Macam-macam metode perencanaan pendidikan menurut Husaini Usman adalah :

  • Metode means-ways-goals analysis (analisis sumber-cara-tujuan)
  • Metode input-output analisis (analisis masukan-keluaran)
  • Metode analysis econometrik (analisa ekonometrik)
  • Metode cause-effect diagram (diagram sebab-akibat)
  • Metode Delphi
  • Metode heuristic
  • Metode life sycle analysis (analisa siklus kehidupan)
  • Metode value added analysis (analisa nilai tambah)
  • Metode proyeksi

 

Keempat : Metode proyeksi dipecah menjadi beberapa metode diantaranya :

  1. Proyeksi pemecahan penduduk usia lima tahunan menjadi tahunan
  2. Proyeksi penduduk dan penduduk usia sekolah
  3. Proyeksi kebutuhan ruang kelas
  4. Proyeksi Kebutuhan Guru

DAFTAR PUSTAKA

Fattah, Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: Remaja

Rosdakarya, 2001)

Usman, Husaini, Manajemen, Teori, Praktik dan Riset Pendidikan, (Jakarta:

Bumi Aksara, 2006)

Syafaruddin, Irwan Nasution, Manajemen Pembelajaran (Jakarta: Quantum

Teaching, 2005)

Burhanuddin, Analisis Administrasi Manajemen dan Kepeminpinan Pendidikan,

(Jakarta: Bumi Aksara, 1994)

Hoetomo, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya: Mitra Pelajar, 2005)

Harjanto, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008)

Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, (Yogyakarta: UGM Press, 2001)

Hakim, Lukmanul, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung: Wacana Prima, 2008)

Sudjana, H.D,  Matode dan Teknik Pembelajaran Partisipatif, (Bandung: Falah

Production, 2001)

Terry, GR, disadur Winardi, Azas-azas Manajemen, (Bandung: Alumni, 1970)

Nata, Abuddin, H, Kapita Selecta Pendidikan Islam (Bandung: Angkasa, 2003)

About mpiuika

ilmu tuntut dunya siar

Posted on 14 Desember 2009, in Makalah and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. makasih infonya, sy butuh rumus APK

  2. Karya ini sangat membantu saya dalam menyelesaikan tugas. menginspirasi. terima kasih.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: