ISU ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM


Oleh: Rahmawati, Roy Widiastuti, Rina Herlina, Asa Amalia

A. Latar Belakang

Islam adalah agama yang haq hingga akhir masa. Islam agama yang komprehensif karena islam adalah tutunan dalam menjalani kehidupan ini, segala laku kita sudah tercantum tutunannya dalam al-Qurán dan al-Hadits jadi jika kita hidup dengan memegang tutunan itu maka layaknya seorang pengelana maka dia tidak akan tersesat karena dia mempunyai peta guna membuatnya sampai ketempat tujuan walaupun dalam menjalaninya ditempuh dengan susah payah.

Dalam Islam sebagaimana wahyu pertama yang diterima Rosulullah saw:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ   خَلَقَ الإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ   اقْرَأْ وَرَبُّكَ اْلأَكْرَمُ  الَّذِي عَلَّمَ ابِالْقَلَمِ   عَلَّمَ اْلإِنسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah, 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1],, 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. al-‘Alaq, 1-5)

Adalah wahyu yang mengetengahkan ilmu yang harus dimiliki guna menjalankan agama Allah swt ini, yaitu dengan ilmu Allah, maka tidak heran mengapa Rosulullah menjawab: “saya tidak bisa membaca” bukan berarti beliau tidak bisa baca tulis atau bukan beliau bodoh yang tidak bisa menggunakan pikirannya. Justru jawaban tersebut menggambarkan pandangan yang jauh dan murni, seperti halnya para malaikat tatkala diperintahkan untuk menjelaskan al-Asma mereka menjawab:     سبحنك لا علم لنا الاماعلمتنا

Wahyu adalah diatas segalanya akalpun tak sanggup menjangkaunya, hanya qolbu yang bersih akan tersentuh oleh wahyu. Karena wahyu adalah bahasa Allah yang berbicara tentang hakekat kebenaran (Haq).

Sesungguhnya ilmu itu dari Allah yang diajarkan didalam kitabnya dan tidak pernah ada suatu ilmupun yang tidak diterangkan dalam al-kitab atau terlepas dari al-Qurán.

Jadi dalam kehidupan ini kita membutuhkan ilmu pengetahuan, baik dalam memahami Islam juga dalam memahami alam beserta isinya yang telah Allah swt ciptakan, kita membutuhkan uraian ilmu yang terkandung dalam al-Quránul karim sebagai mana perkataan DR. Zakir Naik[2] dalam Dialognya mengenai Ilmu pengetahuan dari sisi al-Qurán dan Injil beliau, mengatakan:

“al-Qurán bukanlah ilmu pengetahuan ia adalah buku tentang tanda, ia buku tentang ayat-ayat dan disana ada 6000 ayat dalam al-qurán yang agung yang di dalamnya ada lebih dari 1000 uraian tentang ilmu pengetahuan”. Yang didalamnya terdapat ribuan tanda bagi orang yang mau membuka mata pikiran dan hatinya, karena orang-orang yang mendengar tetapi tuli, melihat tetapi buta dan berbicara tetapi bisu. Sebagaimana Allah swt berfirman:

صُمُّ بُكْمٌ عُمْىُُ فَهُمْ لاَ يَرْجِعُونَ

Mereka tuli, bisu dan buta[3], Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). (Q.S. al-Baqarah, 18)

Ada dua pendekatan yang digunakan dalam mencari kebenaran antara kitab suci dan ilmu pengetahuan yaitu pendekatan kesesuaian dan pendekatan konflik. Yaitu pendekatan kesesuain antara kitab suci dan ilmu pengetahuan, atau pendekatan konflik dimana mencari ketidak samaan antara kitab suci dan ilmu pengetahuan, namun dengan pendekatan apapun al-Qurán sepanjang anda berpikir logis dan setelah penjelasan logis diberikan pada anda tak seorang dapat membuktikan satu ayat pun dalam kitab suci al-Qurán untuk dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan modern[4].

Dari penjabaran latar belakang diatas penulis ingin membuat beberapa hal yang menjadi perhatian atau yang akan dibahas dalam makalah ini menyangkut islamisasi ilmu pengetahuan, yaitu:

  1. Dua pengembang Islamisasi ilmu pengetahuan yang terkenal.
  2. Srategi dan kerangka kerja dasar islamisasi ilmu pengetahuan.
  3. Tiga Fase Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer.

B. Pembahasan

Pada hakekatnya ide Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Islamization of knowledge) ini tidak bisa dipisahkan dari pemikiran Islam di zaman moderen ini. Ide tersebut telah diproklamirkan sejak tahun 1981, yang sebelumnya sempat digulirkan di Mekkah sekitar tahun 1970-an.

Dalam islamisasi dikenal dua nama yang disebut-sebut sebagai penyebar faham ini keseluruh penjuru negeri, yaitu Naquib al-Attas dan Ismail al-Faruqi, dimana kedua sama-sama mengumandangkan Isu Islamisasi Ilmu Pengetahuan tetapi dengan dua jalan yang berlainan.

  1. Al-Attas vs Al-Faruqi[5]

Konstruk intelektual yang dinisbatkan pada peradaban tertentu, biasanya memiliki spektrum yang cukup luas.  Ia tidak bisa dibaca sebagai sesuatu yang tunggal dan serba seragam.  Demikian halnya dengan gagasan islamisasi ilmu pengetahuan yang mulai ramai diperbincangkan pada tahun 1970-an. Pada tahap perkembangan mutakhirnya, model islamisasi ilmu pengetahuan yang diajukan oleh berbagai sarjana Muslim dari berbagai disiplin ilmu, bisa dibedakan baik dari sisi pendekatan dan konsepsi dasarnya.  Terlebih pula jika melihat konstruk ilmu pengetahuan yang merupakan output dari pendekatan dan konsepsi dasar tersebut.

Namun ada beberapa konsep-konsep dasar yang menjadi titik persamaan gagasan islamisasi ilmu pengetahuan yang diajukan berbagai sarjana Muslim. Misalnya jika kita melihat pada dua nama yang cukup berpengaruh di dunia Islam dan dipandang sebagai pelopor gerakan islamisasi ilmu pengetahuan: Syed Muhamamd Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi.

Bagi Al-Attas misalnya, islamisasi ilmu pengetahuan mengacu kepada upaya mengeliminir unsur-unsur serta konsep-konsep pokok yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat, khususnya dalam ilmu-ilmu kemanusiaan.  Tercakup dalam unsur-unsur dan konsep ini adalah cara pandang terhadap realitas yang dualistik, doktrin humanisme, serta tekanan kepada drama dan tragedi dalam kehidupan rohani sekaligus penguasaan terhadapnya.

Setelah proses ini dilampaui, langkah berikutnya adalah menanamkan unsur-unsur dan konsep pokok keislaman.  Sehingga dengan demikian akan terbentuk ilmu pengetahuan yang benar; ilmu pengetahuan yang selaras dengan fitrah.  Dalam bahasa lain, islamisasi ilmu pengetahuan menurut Al-Atas dapat ditangkap sebagai upaya pembebasan ilmu pengetahuan dari pemahaman berasaskan ideologi, makna serta ungkapan sekuler. Singkatnya menurut Al-Attas sukses tidaknya pengembangan islamisasi ilmu tergantung pada posisi manusia itu sendiri (subjek ilmu dan teknologi).

Sementara menurut Ismail al Faruqi, islamisasi ilmu pengetahuan dimaknai sebagai upaya pengintegrasian disipilin-disiplin ilmu modern dengan khazanah warisan Islam.

Langkah pertama dari upaya ini adalah dengan menguasai seluruh disiplin ilmu modern, memahaminya secara menyeluruh, dan mencapai tingkatan tertinggi yang ditawarkannya.  Setelah prasyarat ini dipenuhi, tahap berikutnya adalah melakukan eliminasi, mengubah, menginterpretasikan ulang dan mengadaptasikan komponen-komponennya dengan pandangan dunia Islam dan nilai-nilai yang tercakup di dalamnya.

Dalam deskripsi yang lebih jelas, islamisasi ilmu pengetahuan menurut al-Faruqi adalah “upaya mewujudkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologinya, strateginya, dan dalam apa yang dikatakan sebagai data-data, problemnya, tujuan-tujuannya dan aspirasi-aspirasinya.” Terkait dengan ini maka setiap disiplin ilmu mesti dirumuskan sejak awal dengan mengkaitkan Islam sebagai kesatuan yang membentuk tauhid, yaitu kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan dan kesatuan sejarah.  Ia harus didefinisikan dengan cara baru, data-datanya diatur, kesimpulan-kesimpulan dan tujuan-tujuannya dinilai dan dipikir ulang dalam bentuk yang dikehendaki Islam.

Di samping beberapa kesamaan pola dasar islamisasi ilmu pengetahuan sebagaimana dapat dilihat dari paparan di atas, agaknya ada segaris perbedaan di antara al-Attas dan al-Faruqi.  Al-Faruqi tampaknya lebih bisa menerima konstruk ilmu pengetahuan modern yang penting baginya adalah penguasaan terhadap prinsip-prinsip Islam yang dengannya sarjana Muslim bisa membaca dan menafsirkan konstruk ilmu pengetahuan modern tersebut dengan cara yang berbeda.  Sementara Al-Attas disamping pengaruh sufisme yang cukup kuat, antara lain dengan gagasan digunakannya takwil dalam kerangka islamisasi ilmu pengetahuannya lebih menekankan pada dikedepankannya keaslian (originality) yang digali dari tradisi lokal.

Dalam pandangan Al-Attas, peradaban Islam klasik telah cukup lama berinteraksi dengan peradaban lain, sehingga umat Islam sudah memiliki kapasitas untuk mengembangkan bangunan ilmu pengetahuan sendiri. Tanpa bantuan ilmu pengetahuan barat modern, diyakini dengan merujuk pada khazanahnya sendiri umat Islam akan mampu menciptakan kebangkitan peradaban.

Agaknya, perbedaan semacam ini, disamping faktor-faktor personal, yang membuat keduanya memilih mengembangkan gagasannya di lembaga yang berbeda. Jika al-Attas kemudian berkutat di International Institute of Islamic Thoughts and Civilization (ISTAC) yang berbasis di Malaysia. Al-Attas memformulasi dua tujuan pertama dari ISTAC:

1. Untuk mengonseptualisasi, menjelaskan dan mendefinisikan konsep-konsep penting yang relevan dalam masalah-masalah budaya, pendidikan, keilmuan dan epistimologi yang dihadapi muslim pada zaman sekarang ini.

2. Untuk memberikan jawaban Islam terhadap tantangan-tantangan intelektual dan kultural dari dunia modern dan berbagai kelompok aliran-aliran pemikiran, agama, dan ideologi.

Sementara itu al-Faruqi menyebarkan gagasannya lewat International Institute of Islamic Thoughts (IIIT) yang berbasis di Washington DC, Amerika Serikat. IIIT mendefinisikan dirinya sebagai sebuah “yayasan intelektual dan kultural” yang tujuannya mencakup:

  1. Menyediakan wawasan Islam yang komprehensif melalui penjelasan prinsip-prinsip Islam dan menghubungkannya dengan isu-isu yang relevan dari pemikiran kontemporer.
  2. Meraih kembali identitas intelektual, kultural dan peradaban umat, lewat Islamisasi humanitas dan ilmu-ilmu sosial.
  3. Memperbaiki metodologi pemikiran Islam agar mampu memulihkan sumbangannya kepada kemajuan peradaban manusia dan memberikan makna dan arahan, sejalan dengan nilai-nilai dan tujuan Islam.
  4. Srategi dan kerangka kerja dasar islamisasi ilmu pengetahuan[6]

Terdapat beberapa model skematis dalam upaya islamisasi ilmu pengetahuan. Al Faruqi misalnya menggagaskan sebuah rencana kerja dengan dua belas langkah:

1. Penguasaan dan kemahiran disiplin ilmu modern: penguraian kategori

2. Tinjauan disiplin ilmu

3. Penguasaan warisan ilmu Islam: sebuah antologi

4. Penguasaan warisan ilmu Islam: sebuah analisis

5. Penentuan penyesuaian Islam yang khusus terhadap disiplin ilmu

6. Penilaian kritikal terhadap disiplin ilmu modern: hakikat kedudukan pada masa kini.

7. Penilaian kritikal terhadap warisan Islam: tahap perkembangan pada masa kini.

8. Kajian masalah utama umat Islam

9. Kajian tentang masalah yang dihadapi oleh umat manusia

10. Analisis kreatif dan sintesis

11. Membentuk semua disiplin ilmu modern kedalam rangka kerja Islam: buku teks

universitas.

12. Penyebaran ilmu pengetahuan islam

Kemudian gagasan tersebut dijadikan lima landasan objek rencana kerja Islamisasi ilmu pengetahuan, yaitu:

  1. Penguasaan disiplin-disiplin ilmu pengetahuan modern.
  2. Penguasaan terhadap khazanah atau warisan keilmuan Islam.
  3. Penerapan ajaran-ajaran tertentu dalam Islam yang relevan ke setiap wilayah ilmu pengetahuan modern.
  4. Mencari sintesa kreatif antara khazanah atau tradisi Islam dengan ilmu pengetahuan modern.
  5. Memberikan arah bagi pemikiran Islam pada jalur yang memandu pemikiran tersebut ke arah pemenuhan kehendak Ilahiyah.

Dan juga dapat digunakan alat bantu lain guna mempercepat islamisasi ilmu pengetahuan adalah dengan mengadakan konferensi dan seminar-seminar serta melalui lokakarya untuk pembinaan intelektual.

Sementara Al-Attas menguraikan bahwa semua ilmu pengetahuan masa kini, secara keseluruhan dibangun, ditafsirkan dan diproyeksikan melalui pandangan dunia, visi intelektual dan persepsi psikologi dari kebudayaan dan peradaban Barat.

Ilmu pengetahuan Barat-modern dibangun di atas visi intelektual dan psikologis budaya dan peradaban Barat. (1) Akal diandalkan untuk membimbing kehidupan manusia; (2) bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran; (3) menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekular; (4) membela doktrin humanisme; dan (5) menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominant dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan.

Oleh karena itu, Islam harus menjadi acuan yang menentukan dalam prinsip utama setiap displin ilmu untuk setiap usaha dan perbuatan manusia. Ada empat poin yang harus diperhatikan, seperti:

1)      Prinsip-prinsip utama Islam sebagai intisari peradaban Islam,

2)      Pencapain sejarah kebudayaan Islam sebagai manifestasi ruang dan waktu dari prinsip-prinsip utama Islam,

3)      Bagaimaan kebudayaan Islam dibandingkan dan dibedakan dengan kebudayaan lain dari sudut manifestasi dan intisari,

4)      Bagaimaan kebudayaan Islam menjadi pilihan yang paling bermanfaat berkaitan dengan masalah-masalah pokok Islam dan non Islam di dunia saat ini.

Faktor lain selaras dengan pandangan di atas adalah masih menduanya sistem pendidikan. Pertama, sistem pendidikan “modern” dan kedua, sistem pendidikan “Islam”. Dualisme pendidikan ini melambangkan kejatuhan umat Islam. Hal ini perlu diatasi, jika tidak sistem dualisme tersebut akan tetap menjadi penghalang setiap usaha rekontruksi peradaban Islam.

Renungan ini sangat penting, karena apabila kita memperhatikan secara cermat, pengalaman masa lampau serta rencana masa depan menuju satu arah perubahan yang dinginkan, maka harus dimulai dari rumusan sistem pendidikan yang paripurna. Apa yang telah Al-Attas dan Al-Faruqi paparkan, itu merupakan langkah “dasar” untuk bertahannya peradaban Islam.

  1. Tiga Fase Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer[7]

Proses islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer memiliki tiga fase. Prof. Abdel Hamid Sabra, pakar sejarah sains yang berasal dari Universitas Harvard mengatakan, gerakan penerjemahan yang dilakukan oleh khalifah al-Ma’mun (w. 833 M) dengan mendirikan perpustakaan yang dinamakan dengan Bayt al-Hikmah sebagai pusat kajian, menunjukkan fase pertama dari tiga tahap islamisasi sains. Adapun tahap kedua, yaitu fase peralihan atau akuisisi, di mana sains Yunani hadir di hadapan peradaban Islam sebagai pendatang atau tamu yang sengaja diundang (an invited guest), bukan sebagai penjajah atau perusak (an invading force). Namun pada tahap ini Islam masih menjaga jarak serta berhati-hati selalu waspada. Kemudian tahap terakhir adalah fase penerimaan atau adopsi, di sini Islam telah mengambil dan menikmati apa yang dibawa serta oleh peradaban tersebut.

Pada saat itu pula kemudian lahirlah ilmuwan-ilmuwan hebat seperti: Jabir ibn Hayyan (w.815 M), al-Kindi (w.873), dan lain-lain. Proses ini tidak berhenti di sini saja namun terus berlanjut ke tahap asimilasi dan naturalisasi. Pada fase ini Islam telah mampu membuat dan mengkonsep ulang ilmu pengetahuan yang syarat akan nilai-nilai keislaman sehingga islam sanggup menjadi pionir dunia di bidang sains dan teknologi. Fase kematangan ini terus berlangsung selama kurang lebih 500 tahun lamanya, dan telah ditandai dengan hasil produktivitas yang tinggi dan tingkat orisinalitas keilmuwan yang benar-benar luar biasa.

Dari paparan di atas, kini jelaslah sudah bahwa islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer memiliki kebenaran-kebenaran tertentu sesuai dengan bingkai ruang dan waktu. Ada satu hal yang mungkin kadang terlupakan, yakni kesadaran akan setiap hasil pemikiran manusia yang selalu bersifat historis dan terikat oleh ruang dan waktu. Untuk itu gagasan islamisasi harus tetap dikembangkan, dilaksanakan, dan kemudian dievaluasi melalui konsep-konsep, ukuran serta standar sebagai produk “framework islami” yang selalu melibatkan “worldview Islam”.

C. Kesimpulan

Berdasarkan dari pembahasan diatas dapatlah diambil kesimpulan bahwa islamisasi ilmu pengetahuan sangatlah penting melihat dari keadaan umat islam yang hanya menjadi penonton bagi kehancuran dunia ini. Karena para ilmuan bukan islam ini hanya akan membawa kehancuran bagi ciptaan-ciptaan Allah swt. Hal-hal yang perlu dan harus dilakukan adalah:

  1. Generalisai pemahaman konsep aqidah islam pada seluruh institusi pendidikan khususnya institusi pendidikan muslim yang ada di Indonesia.
  2. Human Resouces Development atau pengembangan sumber daya manusia khususnya bagi pendidik atau tutor.
  3. Sosialisasi konsep aqidah islam pada seluruh aspek kehidupan baik latar belakang pendidikan maupun non pendidikan.
  4. Praktek kerja sebagai terapan dari pemahaman konsep aqidah islam bagi anak didik secara global baik nasional maupun internasional.
  5. Evaluasi diri atau feedback sebagai aktualisasi diri dari pemahaman konsep aqidah islam tersebut diatas (Islamisasi secara keseluruhan).

D. Daftar Isi

Http://Michailhuda.Multiplay.Com/Journal/Item/157/Islamisasi_Ilmu_Pengetahuan_Posisi_Lembaga_Pendidikan_Tinggi_Islam_Di_Indonesia.

Http://Www.Inpasonline.Com/Index.Php?Option=Com_Content&View=Article&Id=401.Kebutuhan_Mendesak_Terhadap_Islamisasi_Ilmu_Pengetahuan

Http://Www.Acehinstitute.Org/Opini_Mukhlisuddin_Ilyas_Islamisasi_Ilmu_Pengetahuan.Htm

Http://Mpiuika.Wordpress.Com/2010/01/Tiga-Fase-Islamisasi-Ilmu-Pengetahuan-Kontemporer/

Http://www.hidayatullah.com/opini/pemikiran/9747-tiga-fase-islamisasi-ilmu-pengetahuan-kontemporer.format=pdf

Http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/02/pemikiran-ismail-raji-al-faruqi.html

Http://belajarisalam.com/index.php?option=com_content&view=article&id=338:pemikiran-pendidikan-menurut-s-m-naqiub-al-attas

Http://annajah.info/index.php

www.hidayatullah.com

Nata Abudin. 2005. “Pendidikan Dalam Perspektif Al-Qur’an”. Jakarta: UIN Jakarta Press

Departeman Agama RI. “Al-Qur’an dan Terjemahannya”. Jakarta: PT. Syaamil Cipta Media.

Wan Mohd Nor Wan Daud. 2003. Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib Al-Attas. Bandung: MIZAN Anggota IKAPI.

MAJALAH ISLAMIA. “Epistemologi Islam dan Problem Pemikiran Muslim Kontemporer”. Thn II No. 5 April-Juni 2005.

MAJALAH ISLAMIA. “Membangun Peradaban Islam dari Dewestranisasi Kepada Islamisasi Ilmu Pengetahuan”. Thn II No. 6, Juli-September 2005.


[1] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.

[2] President Islamic Research Foundation

[3] Walaupun pancaindera mereka sehat mereka dipandang tuli, bisu dan buta oleh Karena tidak dapat menerima kebenaran.

[4] Debat al-Qurán dan Injil dari sudut pandang ilmu pengetehuan antara Dr. William Cambell (Pennysylvania, USA) dan Dr. Zakir Naik (Mumbai, India). 2000

[5]Http://Www.Acehinstitute.Org/Opini_Mukhlisuddin_Ilyas_Islamisasi_Ilmu_Pengetahuan.Htm

[6] Ibid, hal

[7]Http://www.hidayatullah.com/opini/pemikiran/9747-tiga-fase-islamisasi-ilmu-pengetahuan-kontemporer.format=pdf

About these ads

About mpiuika

ilmu tuntut dunya siar

Posted on 8 Mei 2010, in Makalah and tagged , , , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. ass. saya dapat tugas kuliah ne….
    judulnya “manajement pendidikan islam sebagai disiplin ilmu” saya kurang mengerti maksudnya… bisa minta tolong dibantu gak?

  2. adakah artikel tentang isu-isu manajemen pendidikan islam terkini?
    makasih sbelumnya….

  3. pencari kebenaran

    Problem hubungan agama dengan ilmu.
    rahasia untuk menemukan dua bentuk konsep kebenaran yang berbeda

    Sebelum kita berbicara secara panjang lebar seputar hubungan antara agama dengan ilmu dengan segala problematika yang bersifat kompleks yang ada didalamnya maka untuk mempermudah mengurai benang kusut yang terjadi seputar problematika hubungan antara agama dengan ilmu maka kita harus mengenal terlebih dahulu dua definisi pengertian ‘ilmu’ yang jauh berbeda satu sama lain,yaitu definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan dan versi sudut pandang manusia yang lahir melalui kacamata sudut pandang materialist.
    Pertama adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang materialistik yang kita kenal sebagai ‘saintisme’ yang membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’,(sehingga bila mengikuti definisi saintisme maka otomatis segala suatu yang bersifat abstrak – gaib yang berada diluar wilayah pengalaman dunia indera menjadi tidak bisa dimasukan sebagai wilayah ilmu).faham ini berpandangan atau beranggapan bahwa ilmu adalah ‘ciptaan’ manusia sehingga batas dan wilayah jelajahnya harus dibingkai atau ditentukan oleh manusia.
    Kedua adalah definisi pengertian ‘ilmu’ versi sudut pandang Tuhan yang mengkonsepsikan ‘ilmu’ sebagai suatu yang harus bisa mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit sehingga dua dimensi yang berbeda itu bisa difahami secara menyatu padu sebagai sebuah kesatuan system.pandangan Ilahiah ini menyatakan bahwa ilmu adalah suatu yang berasal dari Tuhan sehingga batas dan wilayah jelajahnya ditentukan oleh Tuhan dan tidak bisa dibatasi oleh manusia,artinya bila kita melihatnya dengan kacamata sudut pandang Tuhan dalam persoalan cara melihat dan memahami ‘ilmu’ manusia harus mengikuti pandangan Tuhan.
    Bila kita merunut asal muasal perbedaan yang tajam antara konsep ilmu versi saintisme dengan konsep ilmu versi Tuhan sebenarnya mudah : kekeliruan konsep ‘ilmu’ versi saintisme sebenarnya berawal dari pemahaman yang salah atau yang ‘bermata satu’ terhadap realitas,menurut sudut pandang materialist ‘realitas’ adalah segala suatu yang bisa ditangkap oleh pengalaman dunia indera,sedang konsep ‘realitas’ versi Tuhan : ‘realitas’ adalah segala suatu yang diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi ‘ada’,dimana seluruh realitas yang tercipta itu terdiri dari dua dimensi : yang abstrak dan yang konkrit,analoginya sama dengan realitas manusia yang terdiri dari jiwa dan raga atau realitas komputer yang terdiri dari software dan hard ware.
    Berangkat dari pemahaman terhadap realitas yang bersifat materialistik seperti itulah kaum materialist membuat definisi konsep ilmu sebagai berikut : ‘ilmu adalah segala suatu yang sebatas wilayah pengalaman dunia indera’ dan metodologi ilmu dibatasi sebatas sesuatu yang bisa dibuktikan secara empirik.
    Ini adalah konsep yang bertentangan dengan konsep dan metodologi ilmu versi Tuhan,karena realitas terdiri dari dua dimensi antara yang konkrit dan yang abstrak maka dalam pandangan Tuhan (yang menjadi konsep agama) konsep ‘ilmu’ tidak bisa dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia indera dan metodologinya pun tidak bisa dibatasi oleh keharusan untuk selalu terbukti langsung secara empirik oleh mata telanjang,sebab dibalik realitas konkrit ada realitas abstrak yang metodologi untuk memahaminya pasti berbeda dengan metodologi untuk memahami ilmu material (sains),dan kedua : manusia bukan saja diberi indera untuk menangkap realitas yang bersifat konkrit tapi juga diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ dan pengertian untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.dimana akal bila digunakan secara maksimal (tanpa dibatasi oleh prinsip materialistik) akan bisa menangkap konstruksi realitas yang bersifat menyeluruh (konstruksi yang menyatu padukan yang abstrak dan yang konkrit),dan hati berfungsi untuk menangkap essensi dari segala suatu yang ada dalam realitas ke satu titik pengertian.

    Mengapa bisa terjadi sesuatu yang dianggap sebagian manusia sebagai ‘benturan antara agama dengan ilmu’ (?) bila dilihat dengan kacamata Ilahi sebenarnya bukan terjadi benturan antara agama dengan ilmu sebab baik agama maupun ilmu keduanya adalah dua aspek yang saling mengisi satu sama lain yang mustahil berbenturan,sebab ada saling ketergantungan yang mutlak antara keduanya.benturan itu terjadi lebih karena faktor kesalah fahaman manusia termasuk karena kesalahan manusia dalam membuat definisi pengertian ‘ilmu’ sebagaimana yang dibuat oleh saintisme itu.
    Bila kita runut fitnah benturan antara agama dengan ilmu itu terjadi karena berbagai sebab,pertama : manusia membatasi definisi pengertian ‘ilmu’ diseputar wilayah dunia indera,sebaliknya agama tidak membatasi wilayah ilmu sebatas wilayah pengalaman dunia indera (karena ilmu harus mendeskripsikan keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang lahiriah-konkrit) sehingga otomatis ilmu yang di persempit wilayah jelajahnya (sehingga tak boleh menjelajah dunia abstrak) itu kelak akan menimbulkan banyak benturan dengan agama.jadi yang berbenturan itu bukan agama vs ilmu tapi agama versus definisi pengertian ‘ilmu’ yang telah dipersempit wilayah jelajahnya.
    Dan kedua : fitnah benturan ‘agama vs ilmu’ terjadi karena ada banyak ‘benalu’ didunia sains yang mengatasnamakan sains padahal ia cuma teori belaka yang bersifat spekulatif kemudian teori itu dibenturkan dengan agama sehingga orang awam melihatnya seperti ‘benturan agama dengan ilmu’ (padahal itu hanya fitnah).untuk dihadapkan dengan agama sains harus bersih dari teori khayali artinya sains tak boleh diwakili oleh teori yang tidak berdasar kepada fakta seperti teori Darwin,sebab bila saintis membuat teori yang tak sesuai dengan kenyataan otomatis pasti akan berbenturan dengan agama sebab konsep agama berlandaskan kepada realitas yang sesungguhnya (yang telah Tuhan ciptakan sebagaimana adanya).
    Dalam konsep Tuhan ilmu adalah suatu yang memiliki dua kaki yang satu berpijak didunia abstrak dan yang satu berpijak didunia konkrit,dan konsep ilmu seperti itu akan bisa menafsirkan serta merekonstruksi agama.sebaliknya konsep ilmu versi kaum materialistik hanya memiliki satu kaki yang hanya berpijak didunia konkrit yang bisa dialami oleh pengalaman dunia indera sehingga dengan konsep seperti itu otomatis ilmu akan menjadi seperti sulit atau tidak bisa menafsirkan serta merekonstruksi agama.
    Jadi bila ada fihak yang memprovokasi seolah ada ‘benturan antara agama versus ilmu’ maka kita harus analisis terlebih dahulu secara ilmiah jangan menelannya secara membabi buta,apalagi dengan bersikap a priori terhadap agama.kasus Darwin sama sekali bukan benturan antara agama vs ilmu tapi antara teori ‘ilmiah’ yang tidak berdasar fakta vs deskripsi kitab suci,begitu pula kasus Galileo itu bukan benturan agama vs ilmu tapi antara temuan ilmuwan vs penafsiran pendeta terhadap kitab sucinya yang belum tentu tepat,(tidak ada ayat kitab suci yang secara astronomis menyatakan bumi sebagai pusat galaksi tata surya dan harus difahami saat itu pendeta melihatnya dari kacamata sudut pandang ‘filosofis’).
    ‘ilmu’ dalam saintisme ibarat kambing yang dikekang oleh tali pada sebuah pohon ia tak bisa jauh melangkah karena dibatasi wilayah jelajahnya harus sebatas wilayah pengalaman dunia indera sehingga ‘yang benar’ secara ilmiah menurut saintisme adalah segala sesuatu yang harus terbukti secara empirik (tertangkap mata secara langsung), dengan prinsip inilah kacamata saintisme menghakimi agama sebagai sesuatu yang ‘tidak berdasar ilmu’.
    Bandingkan ; dalam agama wilayah jelajah ilmu itu luas tidak dibatasi sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi sebab itu ‘ilmu’ dalam agama bisa merekonstruksikan realitas secara keseluruhan baik yang berasal dari realitas yang abstrak (yang tidak bisa tertangkap mata secara langsung) maupun realitas konkrit (yang bisa tertangkap oleh mata secara langsung),jadi ilmu dalam agama tidak seperti kambing yang dikekang.
    Kemudian bila yang dimaksud ‘ilmu’ oleh kacamata sudut pandang saintisme adalah apa yang mereka sebut sebagai ‘sains’ maka itu adalah pandangan yang keliru,sebab untuk mendefinisikan apa itu ‘sains’ kita harus berangkat dari dasar metodologinya,bila metodologi sains adalah metode empirisme dimana parameter kebenaran ilmiah nya adalah bukti empirik maka kita harus mendefinisikan ‘sains’ sebagai ‘ilmu seputar dunia fisik-materi’ sebab hanya dunia fisik-materi itulah yang bisa dibuktikan secara empirik,sedang definisi pengertian ‘ilmu’ menurut versi Tuhan adalah alat atau jalan atau cara untuk mengelola dan memahami keseluruhan realitas baik yang abstrak maupun yang konkrit (sehingga kedua alam itu bisa difahami sebagai sebuah kesatuan unit-sistem),dan metodologi ilmu versi Tuhan itu tidak dibatasi oleh keharusan bukti empirik sebab pertama : realitas itu terdiri dari yang abstrak dan yang konkrit sehingga untuk memahami keduanya secara menyatu padu otomatis metodologi ilmu tak bisa dikonsep harus sebatas yang bisa terbukti secara empirik sebab bila demikian maka dunia abstrak menjadi keluar dari konstruksi ilmu,dan kedua : secara alami manusia sudah diberi akal dan hati yang memiliki ‘mata’ untuk menangkap dan memahami realitas atau hal hal yang bersifat abstrak.(bila mata indera adalah alat untuk menangkap realitas dunia lahiriah-material,maka akal adalah alat untuk menangkap konstruksi nya sedang hati menangkap essensinya).
    Sebab itu bila ilmu diibaratkan sebuah bangunan besar yang memiliki banyak ruang maka ‘sains’ (termasuk teknologi) didalamnya adalah salah satu kamarnya.inilah gambaran tentang ilmu yang tidak difahami kaum materialist,yang gambarannya tentang ‘ilmu’ hanya hidup diruang ‘sains’.ia lupa atau tidak tahu bahwa teramat banyak ruang lain yang untuk memasukinya memiliki metode yang berbeda dengan sains.

    Jadi mesti diingat bahwa ‘sains’ pengertiannya kini harus difahami sebagai ‘ilmu seputar dunia materi’ (yang bisa terbukti secara empirik) agar dalam pandangan manusia pengertiannya tidak tumpang tindih dengan definisi pengertian ‘ilmu’ yang sebenarnya. jadi ‘sains’ bukanlah ilmu dalam pengertian yang bersifat menyeluruh karena wilayah cakupannya terbatas sebatas dunia materi yang bisa di tangkap dunia indera, (sebab itu sungguh janggal bila parameter sains digunakan sebagai alat untuk menghakimi agama yang wilayah jelajahnya meliputi keseluruhan realitas,sebab itu sama dengan meteran tukang kayu digunakan untuk mengukur lautan nan dalam).

    Artinya bila dilihat dari kacamata sudut pandang Tuhan maka apa yang dimaksud ‘sains’ sebenarnya adalah salah satu cabang ilmu,tapi kacamata sudut pandang saintisme mengklaim bahwa (satu satunya) definisi pengertian ‘ilmu’ yang benar menurut mereka adalah konsep saintisme / yang memparalelkan pengertian ‘ilmu’ dengan ‘sains’ seolah hanya sains = ilmu, dan ilmu = hanya sains,dimana selain ‘sains’ yang lain hanya dianggap ‘pengetahuan’ (sebagaimana telah tertera dalam buku buku teks filsafat ilmu).
    Kaum materialist tidak mau menerima bila konsep ‘ilmu’ dikaitkan dengan realitas dunia abstrak sebab saintisme berangkat dari kacamata sudut pandang materialistik ‘bermata satu’.yang pasti bila kita menerima definisi konsep ‘ilmu’ versi barat (dengan metodologi yang harus terbukti secara empirik) maka agama seperti ‘terpaksa’ harus difahami sebagai ‘ajaran moral’ bukan kebenaran berasas ilmu (sebagaimana pemahaman filsafat materialist terhadap agama).padahal menurut konsep Tuhan agama adalah kebenaran berdasar ilmu,(hanya ‘ilmu’ yang dimaksud adalah konsep ilmu yang bersifat universalistik yang hanya bisa difahami oleh manusia yang ‘bermata dua’/bisa melihat kepada realitas dunia abstrak dan dunia konkrit secara berimbang).
    Jadi mari kita analisis masalah (ilmu dan kebenaran ) ini dari dasar dari realitas yang bersifat menyeluruh,sehingga umat manusia tidak terdoktrin oleh ‘kebenaran’ versi sudut pandang materialist yang sebenarnya berpijak pada anggapan dasar bahwa yang real atau ‘realitas’ adalah hanya segala suatu yang bisa tertangkap dunia indera (dan secara metodologis bisa dibuktikan secara empirik),dan terlalu picik untuk bersandar pada anggapan demikian, mengingat hanya sebagian kecil saja realitas yang bisa ditangkap oleh dunia pengalaman indera manusia,sehingga wajar bila melalui agama Tuhan memberitahukan kepada manusia realitas yang dunia panca indera manusia tidak bisa menangkapnya.

    Jadi bila saat ini banyak pandangan yang ‘bias’ – ‘rancu’ seputar hubungan agama dengan ilmu itu karena definisi pengertian ‘ilmu’ yang saat ini dominan dan menguasai dunia adalah definisi ‘ilmu’ versi saintisme itulah,dan banyak orang yang belum bisa mengoreksi pandangan saintisme itu dari benaknya,banyak orang yang tanpa sadar memakai kacamata saintisme dalam memahami hubungan agama dengan ilmu sehingga kala melihat agama ia melihatnya sebagai suatu yang seolah ‘berada diluar wilayah ilmu’ itu karena saintisme membatasi ‘ilmu’ sebatas wilayah pengalaman dunia inderawi. sedang definisi pengertian ‘ilmu’ versi Tuhan memang hanya difahami sedikit orang yang memiliki pandangan berimbang antara melihat kedunia abstrak dengan melihat ke dunia konkrit.
    Agama yang difahami secara benar dan ilmu pengetahuan yang juga difahami secara benar akankah bertentangan (?),mustahil ! sebab dua hal yang benar mustahil bertentangan satu sama lain melainkan akan saling mengisi satu sama lain walau masing masing mengisi ruang yang berbeda serta mengemukakan kebenaran dalam persepsi yang berbeda.(hanya manusia yang sering tidak bisa menyatu padukan beragam ruang serta beragam persepsi yang berbeda beda itu padahal semua ada dalam satu realitas keseluruhan dan mengkristal kepada suatu kesatuan konsep-makna-pengertian).
    Agama dan ilmu telah menjadi korban fitnah besar dan telah menjadi seperti ‘nampak bertentangan’ karena dalam sejarah telah terjadi provokasi besar besaran oleh kacamata sudut pandang ideology materialistik yang memposisikan agama dan ilmu pada posisi yang seolah bertentangan,karena kacamata sudut pandang materialistik melihat-memahami dan mengkonsepsikan agama secara salah juga melihat-memahami dan mengkonsepsikan ‘ilmu’ secara salah akibatnya mereka (materialist) sulit menemukan keterpaduan antara agama dengan ilmu.
    Sebab itu bila ingin memahami konsep agama dan ilmu secara benar kaji kitab suci secara ilmiah dengan tidak bersikap a priori terlebih dahulu.dan yang mesti diingat adalah bahwa segala bentuk hipotesa – teori yang tidak berdasar fakta-yang cuma khayalan – yang cuma teori-filosofi seputar sains yang berdasar ideology materialist (bukan murni sains),semua adalah ‘karat’ yang membuat agama dengan ilmu akan nampak menjadi bertentangan, sebab agama hanya menerima yang berdasar fakta kenyataan sebagaimana yang Tuhan ciptakan.Ironisnya tidak sedikit ilmuwan-pemikir yang menelan mentah mentah konsep saintisme ini sehingga agama dan ilmu nampak berada pada kotak yang berjauhan yang seperti sulit atau tidak bisa disatu padukan,bahkan pengkaji masalah hubungan agama-ilmu seperti Ian g. barbour sekalipun belum bisa melepas kacamata saintisme ini dari kacamata sudut pandangnya sehingga ia menemukan kerumitan yang luar biasa kala membuat peta hubungan antara agama dengan ilmu.

    ‘Sains murni’ seperti hukum fisika mekanisme alam semesta,hukum hukum ilmu fisika murni, matematika murni,ilmu tentang listrik,ilmu tentang komputer,biology dlsb.yang memiliki bukti fakta empirik yang konkrit yang pasti dan terukur pasti tidak akan bertentangan dengan agama justru menguatkan pandangan agama,tapi teori khayali yang tak berdasar kenyataan seperti Darwin pasti akan berbenturan dengan agama,tapi oleh kaum materialist ilmiah justru teori inilah yang dibesar besarkan dan dihadapkan pada garis terdepan (seolah ia mewakili dunia ilmu !) dan dibenturkan secara langsung dengan agama kala membahas masalah hubungan agama dengan ilmu hingga lahirlah salah satu fitnah akhir zaman yang terbesar sepanjang sejarah didunia.
    Saat ini dengan eksistnya ideology materialisme ilmiah di dunia sains nampak fitnah itu seperti dijaga ketat supaya terus ada hingga kini dengan berbagai cara bahkan dengan cara yang tidak ilmiah sekalipun,seperti contoh : kengototan luar biasa dalam mempertahankan teori Darwin saat teori itu makin terbukti tidak memiliki validitas ilmiah-kemudian penafsiran teori relativitas lalu fisika kuantum ke arah yang sudah bukan sains lagi yaitu ke tafsir tafsir materialistik,dicurigai dibalik semua itu mereka sebenarnya tidak ingin agama dan ilmu nampak sebagai dua konsep menyatu padu sebab kesatu paduan agama dengan ilmu sudah pasti akan menghancurkan ‘kredibilitas ilmiah’ ideology atheistik materialistik yang bersembunyi dibalik wacana wacana filsafat-sains.
    pemikiran-pandangan-opini-pernyataan mereka itulah yang membuat filsafat-sains nampak selalu berbenturan langsung dengan agama,artinya mereka (materialist) berusaha memonopoli tafsir tafsir seputar sains sehingga penafsir sains yang menafsirkan segala suatu seputar sains diluar cara pandang mereka akan langsung distigma kan sebagai pernyataan yang ‘apologistik’ (dibuat buat agar nampak ‘ilmiah’).
    itulah adanya dua konsep ‘ilmu’ melahirkan adanya dua konsep kebenaran yang jauh berbeda : kebenaran versi sudut pandang manusia dan kebenaran versi sudut pandang Tuhan. (karena ilmu adalah konstruksi dari konsep kebenaran).dimana ’kebenaran’ versi ‘saintisme’ adalah terbatas pada segala suatu yang tertangkap dunia pengalaman indera dan atau bisa dibuktikan secara empirik,berbeda jauh dengan konsep ‘kebenaran’ versi Tuhan bukan (?).

  4. Salam. Mhon izin copy ya admin. trims

  1. Ping-balik: MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN PEMIKIRAN ISLAM « saifulunmuha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: