Resensi Buku : Dialog Peradaban (Islam Menggugat Materialisme Barat)


resensi buku

Judul : Dialog Peradaban (Islam Menggugat Materialisme Barat)
Penulis : Cahyadi Takariawan
Tebal : 192 hlm
Ukuraran : 12 X 19,5 cm
Penerbit : Era Intermedia
Tahun : Cet 1, Jumadits Tsani 1424 H/ Agustus 2003 M
Oleh : Ahmad Farhan Syaddad
Mahasiswa PPS UIKA Bogor 2010

Buku berjudul Dialog Peradaban (Islam menggugat materialism Barat) ini ditulis dengan sangat berani oleh Cahyadi Takariawan mengajak para pembacanya untuk memasuki dan menyaksikan sebuah forum dialog yang sangat seru antara dua buah perdaban besar yang ada di dunia ini. Yang satu dianggap sebagai peradaban yang tergugat dan yang satunya lagi dianggap sebagai peradaban yang menggugat. Peradaban Barat dianggap sebagai peradaban tergugat karena semua klaim yang selalu didengung-dengungkan sabagai peradaban yang ideal dan unggul ternyata hanya melahirkan berbagai kehancuran bagi kehidupan manusia. Baik kehancuran fisik, psikis, social, moral, ekonomi, dan lain-lain. Sementara peradaban Islam dianggap sebagai peradaban penggugat karena peradaban Islam tampil untuk menunjukan segala macam kepalsuan yang dijadikan kedok oleh peradaban barat, sehingga semua mata akan menyaksiakan kepalsuan tersebut yang selama ini telah menipu mereka.

Pada Bagian pertama buku ini menyajikan tentang sebuah peradaban yang telah rapuh, yaitu peradaban yang dibangun di atas dasar materialism walaupun pada saat ini peradaban tersebut dianggap sebagai peradaban yang sedang “berkuasa”. Selanjutnya pada bagian ini juga penulis menyebutkan bahwa peradaban Barat sekarang ini bukanlah Kristen, melainkan peradaban Eropa murni yang berlandaskan peradaban Yunani dan Romawi, yang bercirikan antara lain, pertama : selalu percaya dengan apa saja yang dapat dicapai oleh indra dan tidak memperhatikan hal yang tidak dapat dicapai oleh indra atau perpanjangannya. Kedua, rasa keagamaan dan spiritualitasnya kurang. Ketiga, kecenderungan terhadap duniawi dan hidup senang sangat besar. Suasana dan iklim pemikiran Romawi kuno adalah pragmatis murni dan tidak religious – bukan pada asumsi, melainkan pada realitas – begitu pula iklim pemikiran dan kemasyarakatan di Barat modern.

Peradaban barat yang diwakili oleh bangsa kulit putih Eropa dan Amerika Serikat ini terasa berpengaruh hampir di seluruh isi kehidupan, tidak terkecuali bagi ummat Islam. Pengaruh westerninsasi, yang lebih tepat diungkapkan dengan materialisasi telah melilit kehidupan global masyarakat dunia, dimanapun mereka berada. Peradaban oksidental-Barat yang hegemonic tengah berusaha menancapkan kuku-kuku dan taring-taring pengaruhnya pada semua segi kehidupan. Dan   harus diakui bahwa peradaban barat modern telah mencapai sejumlah keberhasilan yang luar biasa di bidang ilmu. Namun demikian harus diingat bahwa disamping keberhasilan, mereka tetap menyimpan kebiadaban yang amat tertinggal dari sisi kemanusiaan, karena banyak sekali kekeliruan sosiologis yang dilakukan oleh para pemuka dan pemikir aliran materialism telah membawa malapetaka besar dalam sejarah kemanusiaan. Bisa kita tengok bagaimana seorang Hitler membantai enam juta bangsa Yahudi, Diktator Joseph Stalin membantai berjuta penduduk negerinya sendiri, dan sebuah rezim Polpot telah membunuh tiga juta penduduknya yang tidak berdosa. Semua itu terjadi karena peradaban materialism secara aksiomatik tidak lagi mengakui adanya sang pencipta dan sikap rasionalistik-materialistik yang ada hanya percaya kepada hal-hal yang kasat mata, yang bisa dilihat dan diamati berdasarkan percobaan di laboratorium.

Setelah pada bagian pertama disajikan tentang kerapuhan peradaban materialism pada bagian kedua penulis menyajikan tentang Makrifatullah ; landasan esensial peradaban. Pada bagian ini penulis menyajikan tentang keagungan sebuah peradaban yang menjadikan makrifatullah sebagai landasan esensial peradaban. Sebuah peradaban bisa menyebabkan kehidupan berjalan harmonis dan mampu menggapai kehidupan dunia dan akhirat jika dibangun atas landasan keimanan. Dan hidup di atas landasan keimanan menghindarkan diri dari keterjebakan dunia yang serba materi. Iman adalah nilai yang memberikan makna dan warna dalam kehidupan manusia. Hanya dengan iman seseorang akan menjadi jelas pandangan dan arah hidupnya. Pada masyarakat materialism, meskipun mereka memiliki sejuta teori manajemen hidup, dengan berbagai macam kerangka penjelasnya, tetap saja ada batasan pada pandangan mereka. Ideologi materialism tidak akan pernah bisa menjangkau pandangan setelah kehidupan dunia : apa yang akan terjadi setelah mati ?

Pada bagian ini penulis juga menjelaskan bahwa mengenal Allah Azza wa Jalla merupakan hal yang fundamental dalam kehidupan seorang muslim, agar ia bisa mengimani-Nya dengan sepenuh hati dan pikiran. Keimanannya tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Ia seorang beriman yang utuh, baik di waktu sendirian maupun dalam kebersamaan dengan muslim yang lain. Ia mukmin yang utuh, baik ketika berada di dalam mesjid maupun ketika berada di pasar.

Makrifatullah atau mengenal Allah yang menjadi landasan esensial sebuah peradaban adalah jalan menuju keimanan, tidaklah seseorang akan mencintai dan menaati Allah dengan benar jika tidak mengenalnya. Tidaklah seseorang akan merasakan pengawasan ketuhanan jika tidak ada pengenalan yang mendalam kepada-Nya. Dapat dijadikan sebuah contoh pengenalan kepada Allah yang sangat mendalam dialog yang mengemuka antara Khlaifah Umar bin Khathab dengan seorang pengembala. Ketika Khalifah menyatakan hendak membeli seekor domba gembalaannya, ia menjawab : “aku hanya seorang Abdi”. Berkata Khalifah, “Katakan saja kepada tuanmu bahwa domba itu mati diterkam serigala”. Terbelalak si pengembala mendengar jawaban Khalifah, dan berkata : “Kalau begitu di mana Allah (faainallah) ?.

Kalimat faainallah adalah kalimat yang sangat pendek untuk diucapkan namun memiliki kedalaman makna, karena keimananya kepada Allah yang telah begitu mengkristal. Sekalipun tuannya tidak akan tahu seandainya seekor domba itu dijual kepada orang lain tetapi ia yakin bahwa Allah tetap melihat dan itulah yang ditakutinya.

Selanjutnya pada bagian kedua ini juga dijelaskan bahwa makrifat bukanlah sebuah posisi tertentu yang sangat sulit dicapai oleh manusia, seakan-akan ia hanya hak dari beberapa orang yang sangat sedikit untuk bisa mencapainya. Penggambaran salah yang sering terjadi pada masyarakat makrifat diidentikan dengan sebuah maqam (posisi) istimewa, dimana pada posisi itu sesorang tidak perlu lagi mengaplikasikan syariat Allah ta’ala, seakan-akan karena seseorang sudah makrifatullah, maka tidak berlaku kewajiban pada dirinya, sebab kata mereka syari’at adalah kewajiban seorang awam. Padahal sesungguhnya makrifat merupakan tangga pertama keimanan, diatas makrifat itu justru harus ditegakan syari’at. Makrifat adalah pengetahuan, pengenalan, dan pemahaman. Ia merupakan kunci untuk bisa mengimani Allah secara benar dan sempurna. Makrifat adalah lawan dari kebodohan, jahiliyah dan kegelapan. Dengan demikian makrifat bukan lawan dari syari’at, sebagaiman dipersepsikan oleh sebagian orang.

Untuk melengkapi dan menyempurnakan keagungan sebuah peradaban, selanjutnya pada bagian ketiga penulis menyajikan bagi para pembacanya makrifaturrasul sebagai landasan operasional peradaban. Pada bagian ini penulis menjelaskan bahwa persaksian laa ilaaha illa Allah tidak akan dapat diwujudkan secara benar dalam kehidupan keseharian, jika tidak mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Rasulullah. Oleh karenanya persaksian dan keimanan terhadap kerasulan Nabi Muhammad saw dijadikan salah satu dari dua kalimat syahadat, yang menjadi gerbang seseorang untuk memasuki agama Islam.

Setelah makrifat terhadap kerasulan Muhammad saw, diharapkan muncul perasaan cinta dan ridha, yaitu mencintai Rasulullah dan segala yang dicintai beliau. Ridha terhadap ajaran beliau beserta aplikasinya, baik ajaran itu menyenangkan dirinya ataupun tidak. Seorang muslim hendaklah mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala cinta yang dimilkinya. Kecintaan terhadap Rasulullah saw merupakan kecintaan terhadap Allah juga. Ketika seorang muslim mencintai Rasulullah saw di atas manusia lainnya, itulah yang paling utama. Beliaulah manusia yang tepat untuk dijadikan teladan, ukuran, serta sasaran cinta yang utama.

Contoh kecintaan para sahabat kepada Rasulullah saw disajikan dengan apik oleh penulis, sehingga siapapun orang yang beriman membacanya insya Allah berkehendak untuk mengambil teladan dari kisah-kisah yang disajikan tersebut. Salahsatu contoh kisah kecintaan para sahabat yang disajikan penulis adalah kisah ketika Zaid bin Datsinah dikeluarkan kaum musyrikin dari tanah haram untuk dibunuh di kota Tan’im, di perjalanan ia berjumpa dengan khubaib bin Adi Al Anshari yang juga hendak dibunuh oleh kaum musyrikin. Akhirnya mereka berdua saling berwasiat tentang kesabaran dan keteguhan terhadap kekejian yang dilakukan oleh orang-orang musyrik. Abu Sufyan, ketika itu masih musyrik berkata kepada Zaid : “kau sangat hina, Zaid” ! senangkah kau, seandainya kini Muhammad menggantikan kedudukanmu dan dipenggal batang lehernya, sedangkan engkau kembali bersama keluargamu?”. Jawaban yang mencengangkan ternyata yang keluar dari mulut mulianya seorang Zaid : “Demi Allah ! Aku tidak akan senang kalau Nabi sekarang yang berada di tempatnya sekalipun terkena duri, sementara aku duduk bersama keluargaku”. Dari jawaban Zaid ini kita bisa melihat bagaimana seorang Sahabat  mencintai Rasul melebihi cintanya kepada dirinya dan keluarganya, sehingga Abu Sufyan berkata : “tak pernah aku melihat seorang manusia mencintai manusia lainnya seperti para sahabat Muhammad mincintai Muhammad.

Pada bagian akhir tulisannya yaitu pada bagian keempat, Cahyadi Takariawan menyajikan tulisan dengan sub judul memasuki peradaban makrifat. Pada bagian ini penulis mengawali tulisannya dengan sebuah illustrasi kehidupan generasi terdahulu, sebuah peradaban makrifat yang dilahirkan oleh cahaya kenabian Muhammad saw. Mereka berkehidupan dengan landasan iman; tidak bisa dibandingkan sama sekali dengan kerapuhan peradaban materi, karena landasannya sangat berbeda.

Seseorang atau suatu kaum yang telah menjadikan makrifatullah dan makrifaturrasul sebagai landasan esensial dan landasan operasionalnya maka hal itu akan dengan mudah tertanam dalam kehidupan pribadinya. Dia akan tumbuh sebagai pribadi yang selalu merasa diawasi Allah dalam setiap gerak-geriknya, dan senantiasa akan menggunakan pedoman yang ditunjukan Rasul dalam setiap langkahnya. Sehingga mereka akan menjadi pribadi yang jujur, senantiasa merasakan keberadaan dan pengawasan Allah pada dirinya, tidak merasa terpaksa saat melaksanakan hokum Allah bahkan mereka tunduk dengan penuh kerendahan diri dihadapan Allah.

Selain tertanam dalam kehidupan pribadi, peradaban makrifatpun harus tertanam dalam kehidupan keluarga, dalam kehidupan social, dalam kehidupan ekonomi, dalam bidang hokum dan peradilan, dalam kehidupan politik, dalam kehidupan bernegara, dan dalam Perjuangan membela kebenaran.

Jika pribadi-pribadi makrifat itu bersatu dalam ikatan keluarga maka muncullah keluarga makrifat. Sebuah kelurga yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Dan tatanan kehidupan akan berjalan dalam kebaikan apabila masyarakat terdiri dari orang-orang yang bermakrifat kepada Allah, apabila terjadi kesalahan danketidak baikan mereka adalah orang-orang yang mudah diberi peringatan untuk kembali kepada kebenaran, sebab mereka mencintai Allah. Oleh karena itu mereka akan menetapi ketentuan Allah dengan sukarela. Selain itu masyarakat yang bermakrifat kepada Allah akan sangat berhati-hati dalam urusan ekonomi, karena mereka sadar kalau harta adalah fitnah yang mudah menjerumuskan manusia ke dalam ketidakbaikan. Seseorang yang makrifatullah juga senantiasa akan berbuat adil dalam menetapkan hokum, dia tidak akan berpihak kepada anggota kelompoknya seandainya anggota kelompoknya itu salah, dan ia juga tidak akan menzalimi lawanya jika lawannya itu berada dalam posisi yang benar. Dan jika seseong telah menjadikan makrifatullah dan makrifaturrasul sebagai landasan peradabannya terjun di dunia politi dia akan berpolitik dengan bersih dan tidak menghalalkan segala cara, dan jika dia menjadi pejabat public maka dia akan menjalankan roda pemerintahannya sesuai syariat Islam, tidak menghambur-hamburkan anggaran negara dan tidak hidup bermewah-mewahan, semua fasilitas negara hanya dipergunakan untuk kepentingan dinas. Bahkan mereka yang berjiwa makrifatullah tidak akan pernah gentar saat menghadapi segala bentuk tantangan, walau maut menghadang mereka, mereka akan dengan gagah menghadapinya.

Sebagai penutup tulisannya Cahyadi Takariawan mengajak para pembaca untuk merenungkan penuturan Muhammad Qutub dalam pernyataannya yang berbunyi : “Apakah yang harus kita lakukan untuk mewujudkan cita-cita Islam yang telah dibentangkan di hadapan kita ? kita mengetahui bahwa Islam merupakan system terbaik yang ada di muka bumi ini dan dari segi sejarah, baik geografis maupun internasional, telah menunjukan bahwa Islam-lah ssatu satunya senjata kita untuk merebut kembali kehormatan, kepemimpinan, dan keadilan social di dunia.

Demikianlah resensi buku yang berjudul Dialog Peradaban (Islam Menggugat Materialisme Barat) ini kami sajikan semoga bermanfaat untuk dunia pemikiran dan pendidikan Islam. Dan dari resensi ini diharapkan hati dan pikiran ummat manusia di dunia ini terbuka bahwa peradaban barat yang dianggap sebagai peradaban yang sangat ideal dan layak pakai untuk mewujudkan kemaslahatan hidup manusia ternyata justru melahirkan berbagai kehancuran bagi kehidupan manusia. Dan peradaban yang telah dan akan mampu mewujudkan kemaslahatan hidup manusia bukan hanya di dunia tetapi juga di akhirat hanyalah peradaban yang dibangun di atas landasan makrifat.

About these ads

About mpiuika

ilmu tuntut dunya siar

Posted on 30 Juni 2010, in artikel. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: