Kesetaraan Gender


Wacana dan  isu “kesetaraan gender” (KG) kini menggema luar biasa di Indonesia. Berbagai program digelar untuk mensosialisasikan program ini. Bahkan, seolah-olah, paham ini sudah dianggap sebagai satu kebenaran, yang tidak boleh dipersoalkan. Seperti halnya beberapa paham lain yang datang dari peradaban Barat, banyak orang yang kemudian mencari pembenarannya dalam ayat-ayat al-Quran dan hadits. Sekarang, ada istilah ”pembangunan berwawasan gender”,  “politik berwawasan gender”,  “pendidikan berwawasan gender”,   “fiqih berwawasan gender”,  “tafsir berperspektif gender,” dan  sebagainya.

Sebagian aktivis gender kemudian mengangkat isu penjajahan dan penindasan perempuan oleh laki-laki pun diangkat. Seolah-olah, selama ini kaum wanita mundur karena ditindas oleh laki-laki. Lalu, kaum wanita disuruh  bergerak untuk melawan apa yang mereka katakan sebagai ”hegemoni” laki-laki. Entah mengapa, negara-negara Barat dan juga LSM-LSM mereka, kini sangat aktif mendanai berbagai proyek penelitian dan gerakan KG. Bahkan, sasaran paham ini sudah semakin spesifik. Ada yang khusus menggarap pesantren, ada ormas Islam, ada partai, perguruan Tinggi, dan sekolah-sekolah.

Tentu tidak ada salahnya umat Islam bertanya: apa dan untuk siapa sebenarnya program ini? Timbul tanda tanya besar mengapa pihak Barat begitu bersemangat  mengkampanyekan kesetaran gender di dunia Islam, ketika pada saat yang sama,  isu tersebut mengalami stagnasi dan mulai ditinggalkan oleh sebagian masyarakat Barat sendiri?   Banyak problem rakyat Indonesia lain – seperti kemiskinan dan kesehatan – yang masih memerlukan bantuan. Mengapa justru proyek-proyek KG yang mudah mendapatkan pendanaan?

Jadi, KG tidak lepas dari isu pemberdayaan perempuan dan gerakan feminisme. Dan ini tidak bisa dilepaskan dari  sejarah kelam  masyarakat Barat pada abad pertengahan.  Menurut McKay dalam bukunya a  History of Western Society (1983), terdapat bukti-bukti kuat yang mengindikasikan bahwa perempuan telah dianggap sebagai makhluk inferior, bahkan pada tahun 1595, seorang profesor dari Wittenberg University melakukan perdebatan  serius mengenai apakah perempuan itu  manusia atau bukan. (Maududi, Hijab, 1995). Kehidupan keras dialami oleh perempuan-perempuan di Eropa abad Pertengahan (The Middle Ages). Dalam esai  Francis Bacon  tahun 1612 yang berjudul Marriage and single Life (Kehidupan Perkawinan dan Kehidupan Sendiri), disebutkan banyak laki-laki  memilih untuk hidup lajang, jauh dari pengaruh buruk perempuan dan beban anak-anak sehingga dapat berkonsentrasi pada kehidupan publiknya. (Arivia, 2002).

Karena diperlakukan sebagai makhluk tertindas, maka muncullah kemudian berbagai gerakan pembebasan perempuan. Termasuk membebaskan diri dari kungkungan agama. Dalam bukunya, yang berjudul Membiarkan Berbeda?, (1999), pakar Ilmu Gizi IPB, Dr. Ratna Megawangi,  menyebutkan, ide KG bersumber pada paham Marxis, yang menempatkan perempuan sebagai kelas tertindas dan laki-laki sebagai kelas penindas. Institusi keluarga yang mendiskriminasi perempuan harus dihilangkan atau diperkecil perannya apabila masyarakat komunis ingin ditegakkan, yaitu masyarakat yang tidak ada kaya-miskin, dan tidak ada perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan. Agenda feminis mainstream, semenjak awal abad ke-20, adalah bagaimana mewujudkan KG secara kuantitatif, yaitu laki-laki dan perempuan sama-sama berperan,  baik di luar maupun di dalam rumah. Tidak ada bedanya laki-laki dan perempuan. Urusan rumah tangga dan anak adalah urusan sama-sama. Mereka percaya, bahwa perbedaan peran berdasarkan gender adalah karena produk budaya, bukan karena perbedaan biologis atau hal yang nature (fitri).

Tahun 1970-an, para feminis mulai mengusung konsep gender equality atau kesetaraan gender (KG) sebagai mainstream gerakan mereka. Gender,  menurut Unger, adalah, “a term used to encompass the social expectations associated with feminity and masculinity“. Para feminis berpendapat gender merupakan konstruk sosial, dan berbeda dengan “sex“ yang merujuk pada anatomi biologis. Gender dipengaruhi oleh kondisi sosial-budaya, agama, dan hukum yang berlaku di masyarakat serta faktor-faktor lainnya. Lips dalam A New Psychology of Women berpendapat, gender tidak hanya terdiri dari dua jenis, yaitu feminin dan maskulin. Tetapi, menurutnya,  ada gender ketiga yang bersifat cair dan bisa berubah-ubah, dan telah dikenal pada berbagai macam budaya yang berbeda. Gender ketiga ini tidak bisa dikategorikan sebagai feminin atau maskulin, tetapi mereka adalah kaum homoseksual dan transvestite (seseorang yang senang berpakaian gender lainnya). (Lihat, Hilary M Lips, A New Psychology of Women;Gender, Culture, and Ethnicity, 2003).

 

Kesetaraan dan lesbian

Karena itu, tidak mengherankan, jika demi perjuangan kebebasan perempuan dan “kesetaraan”, maka mereka juga aktif memperjuangkan hak-hak kaum lesbian. Sebuah jurnal di Indonesia yang aktif menyuarakan paham KG, edisi Maret 2008, secara terbuka memperjuangkan legalisasi perkawinan homo dan lesbi. Bahkan, gerakan ini juga didukung oleh seorang Profesor bidang keislaman di Jakarta. Ia berpendapat, perkawinan sah dilakukan antara laki-laki dengan laki-laki, atau antara perempuan dengan perempuan.

”Bahkan, menarik sekali membaca ayat-ayat Al-Qur’an soal hidup berpasangan (Ar-Rum, 21; Az-Zariyat 49 dan Yasin 36) di sana tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal gender (jenis kelamin sosial). Artinya, berpasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, melainkan bisa homo, dan bisa lesbian. Maha Suci Allah yang menciptakan manusia dengan orientasi seksual yang beragam,”  ujar guru besar tersebut, mengutip ayat-ayat al-Quran. Tentu saja, penafsiran profesor ini sangat keliru.

Pengakuan terhadap adanya gender ke tiga membuat kaum feminis terus memperjuangkan hak kaum lesbi/homoseksual di seluruh dunia dan menuntut  negara mengesahkan pernikahan mereka secara hukum.  Bahkan dalam perspektif  feminis  radikal, pasangan lesbi memiliki tempat yang “terhormat“ karena dalam hubungan heteroseksual perempuan cenderung  menjadi pihak yang tersubordinasi. Ini berbeda dengan pasangan lesbi, dimana perempuan justru memiliki kontrol  setara sehingga tidak terjadi dominisasi satu dengan lainnya.

Inilah konsep ”kesetaraan” yang mereka inginkan.  Puncak ”kesetaraan” itu, menurut kelompok ini, dicapai oleh  pasangan lesbian. Hal itu tertuang dalam pernyataaan Charlotte Bunch (1978): “The Lesbian is most clearly the antithesis of patriarchy-an offense to its basic tenets. It is woman-hating; we are woman-loving. It demands female obedience and docility; we seek strength, assertiveness, and dignity for women.” (Lesbian adalah antitesis paling jelas dari patriarki yang menyerang doktrin dasarnya. Patriarki adalah pembenci perempuan, sedangkan kami pencinta perempuan. Patriarki menuntut kepatuhan dan kepasifan perempuan, kami mencari kekuatan, penegasan dan harga diri bagi wanita.” (Joan C Chrisler,, et all, (ed), Lectures on the Psychology of Women, (2000).

 

Konsep Islam

 

Umat Islam, khususnya kaum Muslimah,  seyogyanya cerdas dan kritis dalam menyikapi masuknya agenda dan konsep-konsep asing dalam tubuh masyarakat muslim. Islam memiliki konsep sendiri dalam soal relasi laki-laki dan perempuan. Konsep-konsep yang datang dari tradisi budaya lain, tidak sepatutnya ditelan mentah-mentah begitu saja, meskipun dikemas dengan bahasa yang indah. Kaum Muslimah selama ini sudah menerima kodrat mereka sebagai Ibu dan ridha jika melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Islam tidak melarang wanita aktif di luar rumah, dengan izin suami. Muslimah yakin, aktivitas di dalam maupun di luar rumah, jika dilakukan dengan benar dan sesuai dengan konsep syariat Islam, maka itu bagian dari ibadah kepada Allah. Islam tidak membangun  dendam dan semangat permusuhan terhadap kaum laki-laki.

Islam telah menempatkan tugas utama seorang perempuan sebagai Ibu dan pengelola rumah tangga. Seorang perempuan yang tekun mendidik anaknya dan mengelola rumah tangganya dengan baik, tidak lebih rendah martabatnya ketimbang yang aktif dalam politik atau aktivitas publik lainnya. Allah SWT adalah pencipta manusia. Dan Allah tentu lebih tahu fitrah manusia. Allah lebih tahu mana yang baik dan mana yang akan merusak perempuan. Upaya untuk mengubah hukum-hukum Allah pasti akan merusak tatanan masyarakat itu sendiri.

Apalagi, muslim sudah yakin, bahwa dunia ini adalah ujian. Masing-masing menjalankan kewajiban dan haknya. Laki-laki dan perempuan menjalani peran masing-masing, sesuai dengan tuntunan Allah, untuk nantinya dipertanggungjawabkan di Hari Akhir. Iman dan ridha atas peran yang diberikan oleh Allah inilah yang menjadikan seseorang bahagia, di dunia dan akhirat. (***)

sumber : dari sini

About these ads

About mpiuika

ilmu tuntut dunya siar

Posted on 4 November 2010, in Copas and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: