RAJA FILSOF IBNU KHALDUN


“Ilmu sejarah menjelaskan tingkahlaku manusia yang membabitkan hal-hal kerajaan-kerajaan, kemahiran, dan ilmu pengetahuan mereka.”
Ibnu Khaldun

ABDURRAHMAN Ibn Khaldun (1332 M-1406 M), lahir di Tunisia, adalah

khaldun 2
Raja Filsof

sosok pemikir muslim legendaris. Khaldun membuat karya tentang pola sejarah dalam bukunya yang terkenal: Muqaddimah, yang dilengkapi dengan kitab Al-I’bar yang berisi hasil penelitian mengenai sejarah bangsa Berber di Afrika Utara. Dalam Muqaddimah itulah Ibnu Khaldun membahas tentang filsafat sejarah dan soal-soal prinsip mengenai timbul dan runtuhnya negara dan bangsa-bangsa.

Ibnu Khaldun menempuh pendidikan di Tunis untuk mempelajari Al-Qur’an, Hadist, serta beberapa cabang studi Islam. Ia juga belajar kesusastraan Arab, filsafat, matematika, dan ilmu falak. Ketika remaja, ia mengabdi kepada penguasa Mesir, Sultan Barquq.

Arnold Toynbee, sejarawan asal Inggris, menilai kemampuan pemikiran dan karya-karya Ibnu Khaldun dapat disejajarkan dengan Thusydides dan Machiavelli. Bahkan, kini semakin banyak ilmuwan dunia yang memandang Ibnu Khaldun sebagai peletak dasar-dasar falsafah sejarah dan sosiologi. Tentang ihwal keruntuhan sebuah negara, simak sepenggal isi Muqaddimah:

“Ia berlaku disebabkan beberapa faktor utama seperti berlakunya kedzaliman, penindasan dan kehilangan akhlak di kalangan pemerintah serta kesatuan yang baik antara komuniti masyarakat ke arah mengislahkan kerusakan serta kerja menegakkan makruf dan mencegah kemungkaran yang berlaku.”

Maksud Ibnu Khaldun dalam pernyataan ini adalah bahwa jatuhnya sebuah negara atau pemerintahan semata-mata disebabkan oleh ulah kaum di dalam negara itu sendiri, bahwa negara-negara mempunyai usia alami sebagaimana manusia. Jatuh bangunnya sebuah negara ditentukan oleh sikap manusia yang ada di dalamnya. Ketidakadilan, kekecewaan rakyat, serta tirani adalah langkah awal kehancuran sebuah negara.

Ibnu Khaldun berharap agar penguasa-penguasa muslim menjadi bijak, arif, dan tidak tenggelam dalam keserakahan. Asa Ibnu Khaldun tersebut dipengaruhi oleh ajaran Plato tentang konsep “Raja-Filosof”. Namun, harapan seperti ini tampaknya tidak kunjung menjadi kenyataan, baik pada masa hidup Ibnu Khaldun ataupun sesudahnya. Penguasa-penguasa ideal yang tampil dalam panggung sejarah Islam sudah menjadi sebuah kelangkaan. Kemungkinan, harapan dari pemikiran Ibnu Khaldun yang menjadi salah satu faktor mengapa Ibnu Khaldun kerap disebut sebagai sejarawan pesimis.

khaldun 1

Ibnu Khaldun juga kesohor sebagai seorang sejarawan handal. Banyak diantara pemikirannya yang menjangkit soal sejarah. Tujuan umum penulisan sejarah bagi Ibnu Khaldun adalah agar generasi berikutnya dapat mengetahui dan menyikapi keadaan masa lalu, serta dapat mengambil ibrah dalam upaya membangun masa depan (masa depan tegak di atas masa lalu). Sejarahlah yang menjadi jembatan pertemuan masa lalu dan masa yang akan datang. Ibnu Khaldun sangat menonjol di antara sejarawan lainnya, karena memperlakukan sejarah sebagai ilmu, tidak hanya sebagai dongeng. Dia menulis sejarah dengan metode baru untuk menerangkan, memberi alasan, dan mengembangkannya sebagai sebuah filsafat sosial.

Menurut Ibnu Khaldun, sejarah adalah salah satu disiplin ilmu yang dipelajari secara luas oleh bangsa-bangsa dan generasi-generasi. Dalam hakekat sejarah, terkandung pengertian observasi dan usaha mencari kebenaran, keterangan mendalam tentang sebab dan asal muasal benda., serta pengetahuan tentang substansi, esensi, serta musabab terjadinya suatu peristiwa. Dengan demikian, sejarah benar-benar terhujam berakar dalam filsafat, dan patut dianggap sebagai salah satu cabang filsafat.

Sejarah memiliki metode yang sangat mantap, dengan tafsir penggunaan yang teramat banyak, serta bertujuan mulia. Sejarah membikin manusia paham akan bangsa-bangsa terdahulu, sebagai refleksi tingkah laku bangsa mereka terkini. Intinya, sejarah adalah refleksi roda kehidupan manusia: sejarah akan selalu berulang.

ibn_khadun_autografoDengan mempertautkan sejarah dengan filsafat, Ibnu Khaldun tampaknya ingin mengatakan bahwa sejarah memberikan kekuatan intuisi dan inspirasi kepada filsafat, sedangkan filsafat menawarkan kekuatan logika kepada sejarah. Dengan begitu, seorang sejarawan akan mampu memperoleh hasil yang relatif valid dari proses penelitian sejarahnya, dengan dasar logika kritis.

Perihal kebenaran sejarah, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa hukum sejarah berlaku secara universal sehingga kebenarannya dapat terungkap. Untuk mengetahui benar atau salah suatu sejarah, didasarkan atas kemungkinan dan ketidakmungkinan. Kita harus mempelajari kehidupan manusia untuk mengetahui perbedaan karateristik pokok dengan karateristik umum. Pedoman untuk menyatakan kebenaran suatu sejarah adalah dengan menggunakan metode yang dapat ditunjukkan dan diakui masyarakat hingga bersih dari kesalahan. Hal tersebut merupakan alat penguji bagi para ahli sejarah yang ingin mendapat penjelasan tentang kebenaran suatu sejarah.

Sumber : JEMARIKU

About mpiuika

ilmu tuntut dunya siar

Posted on 31 Oktober 2009, in Copas and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Tulisan yang informatif, makasih ya …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: