Risalah Udhiyah (Kurban)


Assalaamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh

Al hamdulillah, washalatu wasalaamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wahohbihi wa man waalah, amma ba’du.

Dihadapan anda saat ini kami sajikan Risalah Kurban atau Udhiyah, sebuah risalah singkat yang mudah-mudahan saja terkandung manfaat yang sangat dalam sehingga bisa dijadikan pedoman bagi para pembaca untuk menghadapi qurban tahun ini, Risalah ini ditulis oleh Sahabat Kita USTADZ AGUS SALIM seorang sahabat yang sangat bersahaja rendah hati dan berilmu tinggi semoga Allah senantiasa memberikan perlindungan kepadanya. Berikut ini Risalah Udhiyah kiriman dari seorang sahabat semoga bermanfaat, Amiin.

Masyru’iyah Udhiyah

Allah Ta’ala telah mensyareatkan kepada para hambanya untuk berqurban sebagai suatu ibadah dan juga bernilai muttaba’ah, Allah berfirman dalam surat Al-Kautsar : 2

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“ Maka dirikanlah Sholat karena Robbmu dan sembelihlah hewan kurban”

Hukum Udhiyah

Ada tiga pendapat mengenai hukum udhiyah :

Sunnah dan bukan wajib: Ini merupakan pendapat Imam An-nawawi, Ibnu Hajar, mereka berhujh dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Syafi’I dan bBaihaqi dari hadits Abu Suraihah Al-Ghifari berkata:

عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَ عُمَرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُمَا لاَ يَضْحَيَانِ مَخَافَةً أَنْ يُرَى ذَلِكَ وَاجِبًا

“ Dari Abu Bakar dan Umar tidak berqurban karena merasa benci kalau-kalau dilihat sebagai kewajiban”.

Sunnah Muakkadah : Merupakan pendapat imam Rafi’I, pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Bakar, Umar bin Khottob, Abu Mas’ud Albadri, Said bin Musayyib, Atho’,Alqomah, Malik, Ahmad, dan masih banyak lagi para ulama’ yang berpendapat akan sunnah muakkadnya menyembelih binatang kurban, dan kurban juga meru[pakan syiar islam yang tidak boleh dilupakan dan ditinggalkan bagi yang mampu.

Wajib bagi yang mampu dan mukim: diantara ulama’ yang berpendapat akan wajibnya ibadah kurban bagi yang mampu dan bermukim adalah Imam Abu Hanifah. Ulama’ yang menhukumi wajibnya berkurban mereka berdalil dengan hadits berikut ini

“Siapa yang memiliki kemampuan namun tidak berkurban, maka jangan sekali-kali mendekati masjidku” ( HR. Ahmad dan Ibnu majah ).

Akan tetapi hadits ini derajatnya dho’if karena di dalamnya ada rowi yang dho’if yaitu Abdullah bin Iyasy, maka hukum yang rojih adalah sunnah muakkadah.

Imam Syafi’I berkata : “Andaikan berkurban itu wajib tidaklah cukup bagi satu rumah kecuali mengurbankan untuk setiap orang satu kambing atau untuk tujuh orang satu sapi……”

Kriteria Hewan kurban

  1. Umur : binatang yang akan dikurbankan hendaklah telah berumur : Unta 5 tahun, Sapi 2 tahun, kambing 1 tahun.
  2. Binatang yang dikurbankan adalah Onta, Sapi dan Kambing. Baik Jantan atau batina
  3. Binatang yang dikurbankan harus sehat, dan tidak cacat matanya, patah tanduknya, atau terpotong telinganya atau ekornya. Rosululloh Shalallahu Alaihi Wasalam bersabda:

أَرْبَعَةٌ لاَ تُجْزِئُ فِي اْلأَضَاحِي : اَلْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوْرَهَا ، وَ الْمَرِيْضُ الْبَيِّنُ مَرْضَهَا ، وَ الْعِرْجَاءُ الْبَيِّنُ ضَلْعَهَا ، وَ الْعَجْفَاءُ الَّتِي لاَ تُنْقِى

“ Empat yang tidak mencukupi syarat dalam berkurban : Buta yang jelas, sakit yang nyata, pincang yang sampai kelihatan tulang rusuknya, dan limpuh/ kurus tidak kunjung sembuh”

(HR. Tirmidzi 1504) .

Waktu penyembelihan

Penyembelihan hewan baru diizinkan oleh Rosulullah Shalallahu Alaihi Wasalam setelah sholat Iedul Adha usai sampai tenggelamnya matahari pada hari tasyri’ yang terakhir (13 Dzulhijjah ). Pendapat inilah yang paling rojih menurut kebanyakan ulama’termasuk Ibnu katsir, Ibnu Qoyyim, berdasarkan hadis yang disepakati oleh bukhori 5560,dan muslim1961:

مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلاَةِ فَإِنَّمَا يَذْبَحُ لِنَفْسِهِ وَ مَنْ ذَبَحَ بَعْدَ الصَّلاَةِ وَ الْخُطْبَتَيْنِ فَقَدْ أَتَمَّ نَسْكَهُ وَ أَصَابَ السُّنَّـَة

“ Siapa yang menyembelih sebelum sholat ied maka sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya sendiri, dan siapa yang menyembelih setelah sholat dan dua khutbah maka sungguh ia telah menyempurnakan kurbannya dan sesuai dengan sunnah”

كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ ذَبْحٌ

“ Setiap hari tasyriq adalah hari untuk menyembelih”( Ahmad 4/82)

Adab menyembelih dan sunnah-sunnahnya

  1. Penyembelihan hanya dipersembahkan untuk Allah Ta`ala bukan untuk selainya. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al Bayinah ayat: 5 .
  2. Penuh kasih sayang terhadap binatang. Sebagaimana dalam sebuah riwayat : Dari Qurrah bin Iyyas al Muzani, bahwasanya seseorang bertanya:”Wahai Rasulullah sesungguhnya aku sangat menyayangi kambing untuk menyembelihnya,” maka Rasulullah bersabda:” Jika engkau menyayanginya niscaya Allah menyayangimu. “( HR Al Hakim : 3\586 ).
  3. Penyembelihan disunnahkan dilakukan di tempat sholat (lapangan), berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah menyembelih di tempat beliau sholat idul adha.
  4. Menajamkan pisau
  5. Menyembunyikan pisau dari pandangan binatang
  6. Binatang udhiyah dibawa menuju tempat penyembelihan dengan cara yang baik.
  7. Menjauhkan binatang yang belum disembelih dari hewan yang sudah mati.
  8. Hendaknya tidak mencukur atau memotong rambut dan kuku sebelum disembelih.
  9. Disunatkan bagi yang bisa menyembelih agar menyembelih sendiri hewan kurbannya
  10. Mengucapkan basmalah dan takbir (بسم الله و الله أكبر ) (HR Muslim 3\1557, Abu Daud 2810, Ahmad 6/8,291). Adapun doa ketika menyembelih hewan Udhiyah adalah :

بسم الله و الله أكبر , اللهم منك ولك اللهم تقبل مني

“Dengan nama Allah, (aku menyembelih), Allah maha besar, ya Allah ! (ternak ini) dari-Mu ( nikmat yamg engkau berilan ) dan kami sembelih untukmu, ya Allah terimalah Udhiyahku ini ”. (ini kalau yang menyembelih dirinya sendiri, bila orang laian maka sebut saja namanya min……)

11. Hewan kurban dihadapkan kiblat ( sesuai hadits yang diriwayatkan imam Baihaqi 9/285 )

12. Membaringkan sembelihan.

Dalilnya adalah dari Aisyah bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam memerintakan mengambil seekor domba… lalu beliau mengambil domba tersebut dan membaringkanya kemudian menyembelihnya. ( HR Muslim, Bisyarh Nawawi : 13\130 )

13. Letak bagian yang disembelih

Dari Ibnu Abbas berkata :” Penyembelihan di kerongkongan dan bagian bawah leher. Allabah adalah lekuk yang ada dibagian atas dada dan padanyalah disembelih unta. (HR Abdurazzaq :8215 ).

14. Meletakan kaki diatas bagian dekat dengan leher.

Dari Anas bin Malik berkata:” Rasulullah menyembelih Udhiyah dua ekor domba yang gemuk dan bertanduk, beliau menyembelih keduanya dengan mengucapkan bismillah dan Allahu akbar, dan meletakan kakinya di atas shafah keduanya, dan shafah adalah bagian dekat leher. ( HR Bukhari, fathul Bari :10\18)

Pembagian daging kurban

Allah Ta`ala berfirman :

فَكُلُوا مِنْهَا وَ أَطْعِمُوا الْبَآئِسَ الْفَقِيْر

“Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. Al-haj:28)

dan Allah berfirman:

“maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta”(Qs Al-haj:36)

Sebagian para salaf lebih menyukai membagi daging kurban menjadi tiga bagian: sebagian untuk diri sendiri, sepertiga untuk hadiah orang-orang mampu, dan sepertiga lagi shadaqah untuk fuqoro’.

Sementara itu Syaikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Bazz Rohimahulloh membolehkan dikirimnya hewan dan daging-daging kurban ke daerah daerah jihad dan daerah yang kelaparan.

Satu kambing cukup untuk satu orang dan keluarganya

روى ابن ماجه والترمذي وصححه أن أبا أيوب قال: ” كان الرجل في عهد رسول الله، صلى الله عليه وسلم، يضحي بالشاة عنه وعن أهل بيته فيأكلون ويطعمون حتى تباهى الناس فصار كما ترى

“Adalah seseorang dizaman Rosulullah SAW. Berkurban dengan satu kambing untuknya dan keluarga rumahnya, lalu mereka makan dan dibagikan kepada orang lain hingga orang orang senang dan bangga dan menjadi sebagaimana yang kamu lihat”

Hikmah Disyariatkannya Udhiyah

Diantara hlikmah disyariatkan Udhiyah diantaranya adalah :

1. mendekatkan diri kepada Allah Ta`ala,sebagaimana firman Allah :

“ Maka dirikanlah Sholat karena Robbmu dan sembelihlah hewan kurban”, (surat Al-Kautsar : 2 ) dan firman Allah :

قل إن صلاتي ونسكي ومَحياي ومماتي لله رب العالمين لاشريك له

Katakanlah:”Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; (QS. Al Anam : 163).

2. Menghidupakan sunnah Imamul Muwahidin Nabi Ibrahim Alaihi Salam, ketika Allah mewahyukan kepadanya agar menyembelih putranya yang bernama Ismail, kemudian Allah menebusnya dengan seekor domba.: : “Dan Kami tebus anak itu dengan dengan seekor sembelihan yang besar.”

3. Memberi kelapangan kepada keluarga pada hari raya, dan menyebarkan kasih sayang kepada faqir dan miskin.

4. Sebagai bentuk syukur kepada Allah yang telah menundukan kepada kita dari bintang-binatang ternak. Sebagai firman Allah:” Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwan dari kamulah yang dapat mencapainya .(Al Hajj : 36-37).

Wallahu ‘Alam Bishawab

di tulis juga di :  farhansyaddad.wordpress.com

About mpiuika

ilmu tuntut dunya siar

Posted on 23 November 2009, in artikel and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Risalah yang lengkap, terimakasih atas tulisannya.

  2. Ustadz, mau nanya : Benarkah kalo hewan buat qurban ketika beli gak boleh di tawar ?

  3. trim”s skali artikelnya. moga manfuaat.!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: