Profesor ’Keblinger’ yang Tak Kunjung Tobat


mU5d4h "tidak" Mul14

Sebeginilah kadar keilmuan Profesor Siti Musdah Mulia ketika dikritisi oleh seorang mahasiswi dalam sebuah forum diskusi di Makasar, kampung halaman ia dilahirkan. Jika ngaku profesor, jawab saja sikap kritis mahasiswa tersebut dengan tenang, tak perlu gusar dan geram. Apalagi sampai harus mengancam mahasiswa dengan pasal pelecehan. Siapa yang tak cerdas sesungguhnya!

Sambil menyebut dua media Islam, salah satunya Suara Islam, sebagai bacaan  tak cerdas, Musdah sewot seraya  berseloroh dengan nada mengancam: “Hati-hati yah, kalau adik berkata-kata, saya bisa tuntut anda pasal pelecehan jika anda mengkritisi saya seperti itu. Anda ini kan mengambil data dari Sabili dan Suara Islam. Kedua majalah ini bukan bacaan kaum intelektual. Kedua majalah itu kerjanya cuma menghina orang,” kata Musdah yang profesor itu kepada Kultsum, seorang mahasiswa yang mengkritisinya.

Ketika itu digelar sebuah Seminar Nasional Perempuan tingkat nasional yang diadakan oleh Human Ilumination dengan tajuk  “Adilkah Bangsa dan Agama Terhadapmu”, Senin (30/5/2011). Bertempat  di Gedung Mulo, Jl Sungai Saddang, Makassar, hadir sebagai pembicara antara lain: Prof. DR. Siti Musdah Mulia (Guru Besar Pemikiran Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah – Ciputat, Maria E Pandu (Guru Besar Sosiologi Gender Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  Universitas Hasanudin), Sukma Mulia (Wakil LSM Indonesia Conference of Religions and Peace), dan Suciati (Sekretaris Pemberdayaan Perempuan Pemerintah Provinsi Sulsel). Rata-rata peserta dihadiri oleh mahasiswi dari berbagai kampus di Kota Makassar.

Umi Kaltsum, salah satu peserta seminar, yang juga mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (Unhas), menyebut Musdah sebagai sosok kontroversial yang memojokkan Islam lantaran idealisme liberalnya yang pro Amerika. Kaltsum juga mengungkit-ungkit sepak terjang Musdah setelah pernah meraih nobel Internasional Women of Courage dari Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice di Washington puada 8 Maret 2007 lalu, dan ia mendapat hadiah Rp 6 miliar. 
Bukan rahasia umum, jika pemikiran Musdah selama ini terbilang ngawur dan keblinger. Saat itu Kaltsum menggugat Musdah yang pernah mengutak-atik ajaran Islam melalui draft Kompilasi Hukum Islam pada tahun 2004 yang isinya menyebutkan, pernikahan bukan ibadah, perempuan boleh menikahkan dirinya sendiri, poligami haram, boleh menikah beda agama, boleh kawin kontrak, ijab-kabul bukan rukun nikah, dan anak kecil bebas memilih agamanya sendiri.

“Kawan-kawan sekalian, kita harus mempertanyakan sosok Prof Musdah yang kontroversial ini. Ia adalah orang Amerika. Ia adalah pendukung Amerika yang liberal,” kritik Kaltsum.

Sikap kritis mahasiswi pemberani itu rupanya membuat telinga Musdah panas dan gelagapan. Bulu kuduknya bergidik, tak bisa menjawab dengan kapasitas ilmunya sebagai profesor. Gengsi dibilang keok, Guru Besar UIN itu hanya bisa menggertak sambal dan mengancam akan mempidanakan mahasiswi yang mengkritisi dirinya sebagai pemikir sepilis sejati.

Gentar kah Umi Kaltsum dengan gertakan Sang Profesor? Ternyata tidak sedikit pun. Bahkan umat Islam mendukung sepenuhnya atas keberanian Kaltsum  melawan kebatilan dan sesatnya pemikiran Musdah ”Tidak” Mulia itu. Sesama rekan facebooker telah menyuarakan dukungannya pada mahasiswi ini.

“Bravo Umi Kaltsum: kau masih adik kecil kami tapi jarang diantara kami yang punya nyali seperti kau. Mari sama-sama kita hajar dan bongkar terus pragmatisme, oportunisme kaum-kaum liberalis sebagai anak haram hasil perzinahan Yahudi dan Nasrani”  Demikian salah seorang Facebooker yang  kagum dengan nyali besar mahasiswi Universitas Hasanuddin itu.

Menurut Ustadz Alfian Tanjung, aktivis Islam yang juga dosen kampus Islam ternama di Jakarta, perkembangan sepilis memang terus dikembangkan di kampus-kampus. Kampanye paham sepilis ini sudah diskenariokan. Setidaknya,  ada arus utama di dalam pergerakan sepilis di kalangan akademis, yakni: Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Jaringan Intelektual Muhammadiyah (JIM).

”Tapi sebenarnya, kelompok sepilis itu  tidak cukup kuat dan tidak ada apa-apanya. Mereka ibarat kutu yang dilihat dengan kacamata pembesar,  gerakan nya begitu leluasa di kampus-kampus,” kata Alfian.

Dimata Alfian,  Musdah  itu ibarat ”iblis betina”, robot dan kacung Barat, isi otaknya sudah penuh dengan belatung. Simak saja ucapannya ketika ia diwawancara dalam sebuah acara ”Mata Najwa” di stasiun televisi. Dengan konyol, Musdah mengatakan, Pancasila adalah bagian atau subordinat dari Islam.

Tidak aneh, jika Musdah terlihat alergi dan anti dengan media Islam seperti Suara Islam yang dinilai tidak cerdas. Kenapa Musdah menyerukan kepada mahasiswa agar tidak membaca media Islam tersebut? Karena media Islam inilah yang selama ini berani membongkar kesesatan pemikirannya. Musdah khawatir, umat Islam menjadi tahu kebobrokan dirinya dan distorsi pemahaman agamanya. Seharusnya, Musdah menghadapi mahasiswa dengan perdebatan, bukan mengancam.

”Satu hal, kita jangan terpesona dengan gelar profesor atau doktor seseorang. Mahasiswa dan aktivis Islam harus melawan dan mengcounter kampanye kaum sepilis di mana pun berada. Jangan pernah takut dengan gertakannya,” ungkap Alfian berpesan.

Track Record Musdah

Mengutip pepatah Arab, “Khaalif, tu’raf! (”jika ingin terkenal, berfikirlah ngawur!”) Boleh jadi, pepatah itulah yang menjadi pijakan seorang Siti Musdah Mulia dalam berpikir. Siapa yang tak kenal dengannya? Namanya begitu populer sebagai  salah satu tokoh liberal yang selama ini getol menjadi pengasong paham sekularisme, pluralisme dan liberalisme (sepilis) di Tanah Air.

Beberapa pemikiran nyelenehnya, pernah membuat heboh umat Islam di Indonesia, yakni  ketika ia mengusulkan Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (CLD-KHI) sekitar tahun 2004. Hasil pemikirannya itu, dinilai banyak kaum Muslim ‘melabrak’ pemahaman tentang hukum perkawinan, waris, dan wakaf dalam Islam.

Diantara teks-teks krusial yang diusulkan Tim Musdah Mulia ketika itu antara lain: pernikahan bukan ibadah, perempuan boleh menikahkan dirinya sendiri, poligami haram, boleh nikah beda agama, boleh kawin kontrak, ijab kabul bukan rukun nikah dan anak kecil bebas memilih agamanya sendiri. Pendekatan gender, pluralisme, HAM dan demokrasi bukanlah pendekatan hukum Islam.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun geleng-geleng kepala dengan menyebut draft ini sebagai bid’ah (penyimpangan) dan taghyir (perubahan) dari hukum Islam. MUI menyebut CLD-KHI sebagai upaya memanipulasi nash-nash Al-Qur’an.

Tak hanya MUI, Menteri Agama ketika itu, Prof. DR. H. Said Agiel Al Munawar, menyampaikan teguran keras kepada Tim Penulis Pembaruan Hukum Islam, untuk tidak lagi mengulangi mengadakan seminar atau kegiatan serupa dengan mengatasnamakan tim Departemen Agama dan semua Draft CLD-KHI agar diserahkan kepada Menteri Agama RI. Bahkan pada masa Menteri Agama Maftuh Basyuni,  CLD-KHI tersebut telah dibatalkan. Dan Siti Musdah Mulia sebagai Ketua Tim Penyusun CLD-KHI dilarang pemerintah menyebarluaskan gagasannya.

Keistiqomahan Musdah  dengan pemikiran ngawurnya, berlanjut  dengan menerbitkan buku ”Fiqih Lintas Agama”, yang biayanya dibantu oleh The Asia Foundation,  lembaga donasi dari Amerika yang sering mendukung gagasan liberalisme. Dalam buku tersebut, tim penulisnya banyak membuang makna teks dan menggunakan aspek konteks secara amburadul.

”Profesor tidak jaminan pasti bener (benar, red). Banyak pula profesor yang keblinger. Ide-ide ”aneh” nya  yang mengharamkan poligami, memberi masa iddah bagi laki-laki, menghilangkan peran wali nikah bagi mempelai wanita, dan sebagainya adalah bukti dia tetap bertahan dengan pendapatnya. Biar orang ngomong apa saja, tak perlu dipedulikan,” kata Adian Husaini, pengamat pemikiran Islam yang sering mengcounter pemikiran sepilis kaum liberal.

Menurut Adian, dukungan Musdah Mulia terhadap perkawinan sesama jenis (homoseksual dan lesbian) bukanlah buah bibir, tuduhan, ataupun kesalahpahaman dalam menterjemahkan pemikirannya. Dukungannya itu ucapkan sendiri  dalam  sebuah wawancaranya di sejumlah media massa. Kata Musdah, ”Allah hanya Melihat Taqwa, bukan Orientasi Seksual Manusia”.

Dalam sebuah makalahnya yang berjudul ”Islam Agama Rahmat bagi Alam Semesta”, dosen pasca sarjana UIN Jakarta ini menulis: “Menurut hemat saya, yang dilarang dalam teks-teks suci tersebut lebih tertuju kepada perilaku seksualnya, bukan pada orientasi seksualnya. Mengapa? Sebab, menjadi heteroseksual, homoseksual (gay dan lesbi), dan biseksual adalah kodrati, sesuatu yang “given” atau dalam bahasa fikih disebut sunnatullah…”

Konyolnya lagi, Musdah mengatakan seperti ini: ”Islam mengajarkan bahwa seorang lesbian sebagaimana manusia lainnya sangat berpotensi menjadi orang yang salah atau taqwa selama dia menjunjung tinggi nilai-nilai agama, yaitu tidak menduakan Tuhan (syirik), meyakini kerasulan Muhammad Saw serta menjalankan ibadah yang diperintahkan. Dia tidak menyakiti pasangannya dan berbuat baik kepada sesama manusia, baik kepada sesama makhluk dan peduli pada lingkungannya. Seorang lesbian yang bertaqwa akan mulia di sisi Allah, saya yakin ini.”

Berkah kegigihannya membela kaum pendosa (homo-lesbi) itulah, pada 7 Maret 2007 pemerintah Amerika Serikat menganugerahi Musdah sebuah penghargaan ”International Women of Courage Award”. Prof. Musdah pun mendapat julukan sebagai ”tokoh feminis muslimah yang progresif”. Musdah berdalih, ia ingin mengembalikan prinsip Islam, yang humanis dan ramah terhadap perempuan. Masya Allah…!

Seperti diketahui, pers asing pernah menyebut Irshad Manji (penganut lesbianisme) sebagai “provokator berjalan untuk Islam tradisional’. Bahkan Manji pernah mengatakan, cendekiawan Barat seharusnya tidak takut lagi mengkritik Islam. Tahun 2003 ia mempublikasikan bukunya “The Trouble with Islam Today”. Isinya banyak menghujat Islam.

Maka media Islam yang tergabung dalam Forum Jurnalis Muslim (Forjim) akan memberikan predikan kepada Siti Musdah Mulia sebagai “Ratu Sepilis yang Tak Kunjung Insaf”. “Khaalif, tu’raf! (”jika ingin terkenal, berfikirlah ngawur!”) begitulah Si Ratu Sepilis yang beragama dengan motif sensasional.

(Desastian)

Box
Sinis Ratu Sepilis soal Jilbab

Yang jelas, ini bukan kali pertama Ratu ”Sepilis” Musdah Mulia melontarkan argumen ngawur. Jilbab, menurut Musdah, bukanlah merupakan kewajiban, melainkan pilihan. Pendapat itu terungkap dalam talkshow dan bedah buku berjudul “Psychology of Fashion: Fenomena Perempuan (Melepas Jilbab)” di sebuah kampus di Jakarta, beberapa waktu lalu. Buku yang ditulis oleh Juneman, alumnus Fakultas Psikologi UPI YAI ini, dibedah oleh Prof. Musdah.

Inilah kampanye kemungkaran yang didengungkan Musdah Mulia di kampus-kampus yang harus dilawan. Aneh bin ajaib, Musdah yang berjilbab itu, begitu resah dengan geliat perempuan berjilbab di berbagai tempat. Keresahannya itu ia tunjukkan dengan berondong pertanyaan sinis, apakah perempuan berjilbab tingkat keberagamaannya mengalami peningkatan? Apakah perempuan yang melepas jilbab atau tidak berjilbab, tidak lebih religius ketimbang perempuan berjilbab? “Tak sedikit perempuan berjilbab menjadi korban perkosaan,” ujar Musdah ketus.

Menurut Musdah, jilbab tidak menyimbolkan apa-apa, tidak menjadi lambang kesalehan dan ketakwaan. Tidak ada jaminan bahwa pemakai jilbab adalah perempuan shalehah, atau sebaliknya perempuan yang tidak memakai jilbab bukan perempuan shalehah. Jilbab tidak identik dengan kesalehan dan ketakwaan seseorang.

“Tidaklah keliru jika dikatakan bahwa jilbab dan batas aurat perempuan merupakan masalah khilafiyah yang tidak harus menimbulkan tuduh menuduh apalagi kafir mengkafirkan. Mengenakan, tidak mengenakan, atau menanggalkan jilbab sesungguhnya merupakan pilihan, apapun alasannya. Yang paling bijak adalah menghargai dan menghormati pilihan setiap orang, tanpa perlu menghakimi sebagai benar atau salah terhadap setiap pilihan,” katanya.

Musdah juga mengemukakan kesimpulan dari Forum Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah tahun 1998: “Hukum Islam tidak menunjukkan batas aurat yang wajib ditutup, tetapi menyerahkan hal itu kepada masing-masing orang sesuai situasi, kondisi dan kebutuhan.”

“Menggunakan jilbab tidak menjadi keharusan bagi perempuan Islam, tetapi bisa dianggap sebagai cerminan sikap kehati-hatian dalam melaksanakan tuntutan Islam. Kita perlu membangun sikap apresiasi terhadap perempuan yang atas kerelaannya sendiri memakai jilbab Kita juga harus menghargai mereka yang dengan pilihannya telah melepas atau membuka kembali jilbabnya. Termasuk mengapresiasi mereka yang sama sekali tidak tertarik memakai jilbab,” ujar Musdah.

(Desastian)

Sumber : Suara Islam.

About mpiuika

ilmu tuntut dunya siar

Posted on 5 Juli 2011, in Makalah. Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. innalillahi wa inna ilaihi raajiun, semoga prof .musdah di tunjukkan jalan yg benar oleh Allah SWT. Dan semoga dia ingat,kelak diakherat dia akan dimintai pertanggungan jawab atas apa yang dia ajarkan. Semoga umat Islam selalu waspada terhadap sesuatu yang menjerumuskan. Berjuang saudariku umi kulsum ! Semangat !

  2. musdah tak mulia, memang patut kita do’akan bersama,,,agar ia dapat hidayah dari Allah SWT

  3. pendapat bodoh,pendapat kafir dan pendapat orang liberal yang ingin menghancurkan islam

    Ya Allah laknat lah dy

  4. bisa jg dikatakan balas jasa….: disekolahkan, dihadiahi uang saku, diberi penghargaan dg dalih Nobel Internasional, ujung2nya dia mau diperalat utk mengikuti kemauannya Amerika……….apa itu? mengoplos pemahaman Akidah, Ibadah, dengan faham mereka, agar apa? agar Ummat Islam semakin bingung…katanya Professor? tp kog gtu ya…. Astaghfirullahal ‘adhim….

  5. @uul : emangnye perempuan ky gitu masih bisa disebut org “ISLAM” ??(Muslim) ???Udah jelas ke”kafiran”nya .dengan koment2nya yg ngacak2 akidah islam… otak kafir kya gitu loe masih sebut (Bela) dye org islam????ada juga loe yg goblok !!!

  6. Pemahaman yang jernih memang butuh proses. Asal kita mau membuka pikiran terhadap pendapat dari siapapun sumbernya, bahkan yang bertentangan dengan pendapat kita saat ini, maka kita akan memperoleh pemahaman yang lebih dalam, wawasan lebih luas, perspektif yang tidak sempit. Namun bila kita menutup pikiran terhadap perbedaan pendapat, maka tidak akan terjadi transformasi dan pendewasaan dalam kesadaran kita.
    Bagi yang ingin benar2 memahami latar belakang ajaran Islam, bacalah juga sejarah Islam (termasuk dari sumber independen di luar Islam), sejarah Arabia, sejarah agama Yahudi dan Nasrani yang sebagian diadopsi Islam, bacalah Taurat, Injil, selain Quran. bacalah hadis2 secara cermat (konon ada ribuan yang terseleksi dari ratusan ribu). Budaya jilbab dan posisi sosial perempuan di masyarakat Timur Tengah pra-Islam. Semoga memperoleh wawasan lebih luas. Semoga kita semua diberi hidayah dan pencerahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: